Monday, February 21, 2011

Simfoni Hitam dan Dirinya




Simfoni Hitam by Sherina

Malam sunyi kuimpikanmu, kulukiskan kita bersama
Namun slalu aku bertanya, adakah aku di mimpimu
Di hatiku terukir namamu, cinta rindu beradu satu
Namun slalu aku bertanya, adakah aku di hatimu
***
Tlah kunyanyikan alunan-alunan senduku
Tlah kubisikkan cerita-cerita gelapku
Tlah kuabaikan mimpi-mimpi dan ambisiku
Tapi mengapa ku takkan bisa sentuh hatimu
***
Bila saja kau di sisiku, kan ku beri kau segalanya
Namun tak henti aku bertanya, adakah aku di rindumu
***
Tak bisakah kau sedikit saja dengar aku
Dengar simfoniku
Simfoni hanya untukmu….

      Pertama kali dengar lagu itu waktu aku lagi nonton FTV --lupa judulnya--. Awalnya aku pikir lagu itu 'seram' karena bunyi 'tuts' pianonya terasa horor di telingaku. Tapi karena begitu sering diulang lagunya, sepintas kudengar lagu ini sepertinya sedih. Langsung saja aku nge-search lagu dan liriknya.
GLEEEEEK....!!!!
     Lagu ini menggambarkan apa yang sedang aku rasakan saat ini, semua yang selama ini menyesakkan hatiku, membuat mataku tak ingin terlelap cepat, selalu menunggu larut menghantarkan jiwaku ke alam mimpi.
     Biasanya rasa yang selama ini kumiliki selalu kuutarakan dalam bentuk puisi, sengaja kumainkan jemari, menekan tombol-tombol keyboard huruf yang berbaris menjadi kata, setidaknya mampu membuatku melepaskan dan melampiaskan rasa. Jujur aku ini termasuk orang yang tidak bisa menjaga, menutup rapat-rapat perasaan, bisa-bisa makhluk Adam itu --jika peka-- mengerti jelas apa yang kurasa terhadapnya.
     Kembali ke lagu Simfoni Hitam. Ingin sekali kuperdengarkan lagu ini pada dirinya, ingin sekali rasanya dia mendengar sedikit saja apa yang aku rasakan selama ini. Memang belum lama, tapi rasanya hatiku sudah terlanjur dalam mengukir indah namanya.Pernah sekali kutuliskan sebuah puisi untuknya berjudul Entah, mungkin dia menjadi salah satu pembacanya tapi dia tak pernah tahu tahu kalau puisi itu untuk dirinya. Untuk dia yang membuatku belakangan ini menjadi seseorang yang selalu galau. ckckck...
      Hahaha, bahasanya galau. Tapi memang benar begitu kenyataannya.
      Simfoni Hitam memang hanya sekedar lagu sederhana, tapi kesederhanaannya itu yang secara megah menyuratkan isi hatiku. Benar selama ini diam-diam aku mengagumi dirimu, yang begitu cepatnya mencuri hatiku yang masih ragu memiliki rasa untuk siapa. Tapi pertemuan itu menggoda hatiku yang masih ingin berkelana, saat ini tertambat pada dirimu, entah untuk sementara atau selamanya.
      Sebenarnya aku tak pernah membayangkan kalau kamu adalah sosok laki-laki yang akan pernah menempati bangku kosong dalam hatiku. Aku sendiri tak pernah percaya akan rasa ini, tapi aku salah telah membiarkan hati ini bermain-main.
      Hingga setiap malamnya aku hanya bisa mencoba hadirkan bayangmu dalam mimpiku, hanya bisa kulihat gambar dirimu, semua hanya bisa kulakukan diam-diam tanpa sepengetahuanmu.
      Tapi tak kupungkiri, aku juga selalu bertanya apa kamu juga akan melakukan apa yang kulakukan, setidaknya apakah aku pernah kau pikirkan walaupun itu hanya sejenak, secepat detik berganti? Tanpa kamu jawab seharusnya sudah aku mengerti, tak pernah sedikit pun aku terlintas dalam benakmu.
HUAHAHAHA... NGENES AMAT!!
      Mungkin aku yang salah telah membiarkan rasa terlarang ini terus menancapkan akarnya, mengikat, menjerat, dan selalu menyesakkan. Rasanya kalau rasa dalam hati ini berbentuk lembaran dalam buku ingin sekali kucarik lembarannya, kurobek, kuremas, kubakar, dan kuguyur dengan air sisa abu yang ada, hingga tak ada lagi abu kenangan yang tersisa. Dan buku tetap menjadi buku, mungkin hanya lembarannya saja yang berkurang tapi semua tetap rapih, tak ada lembaran kisah yang masih harus terpaksa disimpan dan perih jika membuka dan membacanya lagi. Sayang itu hanya khayalan. Karena pada kenyataannya hatiku bukan lembaran, bukan sebuah buku.
     Aku menyadari bahwa kamu yang kuimpikan tak pernah mengerti apa yang kurasa, meski selalu kutitipkan rindu ini dalam setiap doa dan sujudku --aku memang bukan manusia yang pandai dalam berdoa, sebaik manusia yang lebih baik dariku-- terlihat 'ramah' terhadap seorang wanita yang cukup ku tahu dia cantik wajah dan peringainya. Sadar aku, lelaki mana yang tak cinta akan dirinya. Aku pun sebagai wanita mengaguminya, aku banyak belajar darinya, bukan untuk menjadi dirinya tapi aku belajar menjadi wanita yang lebih baik setidaknya seperti dirinya. Karena aku pernah dengar, lihat, dan tahu kalau laki-laki yang baik akan mendapatkan wanita yang baik pula, begitupun sebaliknya.
      Seharusnya aku menyadari kalau mawar ini berduri jika kubiarkan tumbuh di hati, tapi itu pilihanku. Kuambil resiko mencintaimu, memilihmu menjadi seseorang yang kudamba membimbingku untuk melangkah di jalan-Nya. Dan duri kini menancap tajam, merobek, memang tak berdarah, hanya membekaskan luka. Tapi aku bersyukur Allah mengizinkan aku merasakan luka ini, merasakan perih ini. Karena dengan itu, sekarang aku mengerti tentang rasa yang sama sekali tak pernah terjamah, tak pernah terlihat karena sebuah pilihan, aku memilih memendam rasa ini tak ingin lagi kamu yang kucinta tahu apa yang ada di hatiku, seperti mereka yang lalu. Aku tak pernah menyalahkanmu akan luka ini, karena kamu memang laki-laki yang baik, hanya aku yang mungkin telah salah mengartikannya.
WEHEHEHEUUU.. MELANKOLIS NIH AH!!
       Tapi aku yakin semua ini adalah takdir dari-Nya. Kujadikan semua ini pembelajaranku mengenal sebuah kehidupan di mana Dia bisa menjadikan hati hamba-Nya mencintai kapanpun, pada siapapun.
     Mengenalmu, banyak memberikan perubahan dalam hidupku, terutama dalam kriteria lelaki yang nantinya menjadi pendamping hidupku. Aku sekarang menanti laki-laki lulusan SMP (Soleh, Mapan, Pintar) untuk menjadi jodohku, pembimbingku kelak, suatu saat nanti. Mungkin saja itu kamu yang kudamba *masih saja berharap*. Kalaupun itu bukan kamu, aku yakin dan percaya siapa pun dia, dia adalah pilihan Allah yang terbaik untukku.
    Karena aku mencintaimu bukan hanya bertujuan untuk memilikimu, aku mencintaimu untuk melihatmu bahagia, bersamaku, bersamanya, ataupun yang lainnya dengan ridho Allah SWT.
AMIIIIIIN....!!! (^_^)

Depok, 21 Februari 2011. 11:05 PM

Thursday, February 10, 2011

Alanda Kariza, Ibu dan Bank Century



Kemarin, 9 Februari saya sedang asik tweeting –kebiasaan saya mengisi waktu senggang saat liburan–, sepintas saya melihat tweet dari teman di Twitter saya Kristiono Setyadi yang bertuliskan
Dear @AlandaKariza, behind every storm, there’s always a beautiful sky. Don’t stop right now. Just hold on a little bit longer.
adalah tweet semangat yang biasanya juga sering ia lakukan ke teman-temannya yang lainnya, karena beliau termasuk pribadi yang cukup care di mata saya. Tapi persepsi “biasa” saya berubah setelah saya melihat tweet selanjutnya yang masih menyebut nama Alanda Kariza dan kali ini ini dalam tweet-nya ia menyelipkan sebaris link, meskipun sudah penasaran saya masih tetap tidak tergerak membaca link yang ia tuliskan di sana. Saya melanjutkan keasikan saya nge-tweet sama teman saya Cindy Rizky Beauty dan Vania Ika Aldida. Di sela-sela tweet saya, lagi-lagi Mas Kris –begitu bisa saya memanggil Kristiono Setyadi–  men-tweet kelanjutan kisah dua tweet yang sebelumnya yang berisikan
RT @: Solidaritas Netizen untuk Alanda Kariza >>>
tweet-nya kali itu benar-benar membuat saya penasaran dan bertanya-tanya “Ada apa sih, ko kayanya ekspos banget sama Alanda Kariza?” dan akhirnya membuat saya membuka link itu dan membacanya. Pada saat saya membuka link itu saya menemukan sebuah copy-an blog dari seorang Alanda Kariza yang berjudul Ibu << untuk teman-teman yang membaca tulisan saya ini, coba untuk dibaca blog tersebut. Berikut saya copy beberapa bagian tulisan dari blognya.
Sejak Ibu bekerja di Century, hidup kami tetap biasa-biasa saja. Jabatan Ibu sebagai Kepala Divisi boleh dibilang tinggi, tapi tidak membuat kami bisa hidup dengan berfoya-foya. Orang-orang di kantor Ibu bisa punya mobil mahal, belanja tas bagus, make up mahal… Tidak dengan Ibu. Mobil keluarga kami hanya satu, itupun tidak mewah. Saya sekolah di SMA negeri dan tidak bisa memilih perguruan tinggi swasta untuk meneruskan pendidikan karena biayanya bergantung pada asuransi pendidikan. Ibu tidak membiarkan saya mendaftarkan diri untuk program beasiswa di luar negeri – beliau khawatir tidak bisa menanggung biaya hidup saya di sana. Papa di-PHK segera setelah kasus Century mencuat ke permukaan. Papa tidak bekerja, hanya Ibu yang menjadi “tulang punggung” di keluarga saya. Papa dan saya sifatnya hanya “membantu”.
Saat itu, berat sekali rasanya, Ibu memiliki titel “tersangka” di suatu kasus. Saya tidak bisa mendeskripsikan perasaan saya ketika itu. Saya duduk di Kelas 3 SMA tatkala status Ibu berubah. Ibu jatuh sakit karena tertekan. Tepat satu hari sebelum Ujian Akhir Nasional, Ibu harus diopname, dan saya baru tahu pukul 10 malam karena keluarga saya khawatir hal ini akan mengganggu konsentrasi saya dalam menjalani ujian. Saya tidak lagi bisa memfokuskan pikiran saya terhadap UAN SMA. Pikiran saya hanya Ibu, Ibu, dan Ibu.
………………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………………………
Sampai akhirnya, pada tanggal 25 Januari 2011, sehari sebelum saya ujian Introduction to Financial Accounting, saya harus menerima sesuatu yang, sedikit-banyak, menghancurkan mimpi yang telah saya bangun bertahun-tahun, dalam sekejap.
Hari itu seharusnya menjadi hari yang biasa-biasa saja. Ujian hari itu bisa saya kerjakan dengan baik. Saya pulang cepat dari kampus, tidur siang, bangun dan menonton televisi. Ibu pulang malam. Status BBM salah seorang tante berisi: “Deep sorrow, Arga”. (Nama Ibu adalah Arga Tirta Kirana). Saat itu, untuk sejenak, saya tidak mau tahu apa yang terjadi. Hari itu, Ibu dan Papa pergi ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat untuk mendengar pembacaan tuntutan.

Ibu dituntut kurungan 10 tahun penjara dan denda sebesar 10 milyar Rupiah.

Sesak nafas. Yang terasa cuma airmata yang tidak berhenti.
***
Bagaimana menurut teman-teman setelah membaca blog dari Saudari kita Alanda Kariza?
Saya memang tidak terlalu mengikuti perkembangan kasus Bank Century selama ini, tapi membaca blognya sudah cukup membuat saya mengerti apa yang ia dan keluarganya rasakan saat ini terutama Ibu yang menurut saya tak perlu bertemu pun kita sudah bisa mengira beliau adalah orang yang cukup baik. Saya tidak pernah bisa membayangkan bila hal itu terjadi pada Saya dan Ibu Saya. Lalu bagaimana keadilan di Indonesia ini harus menjawabnya? Apa iya Indonesia untuk sekarang dan selamanya harus melulu memberikan ketidakadilan untuk keluarga kecil seperti keluarga Alanda?
Mari kita terus mendoakan yang keadilan yang terbaik untuk keluarga Alanda Kariza. Sosok remaja yang menurut saya juga termasuk remaja yang berprestasi, remaja yang cukup memberikan sumbangsih kepada negara yang mana malah “mungkin” saat ini memberikan ketidakadilan pada dirinya. Seperti yang juga ia tuliskan dalam blognya
Ini negara yang saya dulu percayai, negara yang katanya berlandaskan hukum. Atas nama Indonesia, saya dulu pergi ke forum internasional Global Changemakers. Atas nama Indonesia, saya mengikuti summer course di Montana. Untuk Indonesia, saya memiliki ide dan mengajak teman-teman menyelenggarakan Indonesian Youth Conference 2010. Indonesia yang sama yang membiarkan ketidakadilan menggerogoti penduduknya. Indonesia yang sama yang membiarkan siapapun mengkambinghitamkan orang lain ketika berbuat kesalahan, selama ada uang. Indonesia yang sama yang menghancurkan mimpi-mimpi saya.
Semangat Alanda Kariza, kamu pasti tahu banyak orang yang menginginkan yang terbaik seperti apa yang kamu harapkan.
BE STRONG ALANDA!

Friday, January 21, 2011

ARIEL, Bagaimana dengan BEJO?

Ariel. Vokalis group band ternama yang banyak digandrungi remaja, termasuk juga kaum hawa. Namanya ramai diperbincangkan saat kasus "video"-nya gempar tersebar luas di media. Semua media berlomba-lomba menayangkan berita tentang kasusnya, bahkan dalam pemberitaannya banyak memberikan cuplikan-cuplikan video yang dibicarakan itu. Jadi penikmat media yang tadinya tidak tahu tentang video itu pastinya memiliki rasa penasaran "apa sih videonya?", tidak sedikit yang akhirnya mencari-cari video itu dan menyaksikan isi video itu.

Lalu di kemudian hari ada pemberitaan tentang kasus pencabulan dari anak-anak, sampai remaja yang dikaitkan dengan video Ariel itu, karena ditemukannya video Ariel pada ponsel genggam si pelaku, ada juga yang mengaku karena dia "terangsang" setelah melihat video Ariel itu.

Pertanyaan saya, sebelum ada video Ariel itu, apakah tidak ada video yang sejenisnya? Apakah video yang lain tidak memberikan efek yang sama? Dan apakah media memberikan cuplikan video lain pada tayangannya?

Menurut saya, video Ariel atau apa pun itu tidak akan menimbulkan efek negatif kalau si penyimak video itu membentengi diri untuk tidak melakukan hal yang sama, semua itu kembali ke individunya masing-masing.
Misalnya ada dua orang, si A dan B yang keduanya itu merupakan penggemar Ariel melihat video itu, setelah itu si A memiliki anggapan kalau video itu memang perbuatan yang sangat tidak baik dan dia menjadikan apa yang dia lihat itu adalah sesuatu yang tidak patut dicontoh dan dia hanya menjadikan itu sesuatu yang "cukup tahu aja", berbeda dengan si B, setelah melihat video itu dia melakukan hal-hal yang tidak semestinya, misalnya "pemerkosaan". Kalau kita anggap video itu memberikan pengaruh yang sangat buruk sehingga si B melakukan hal demikian, mengapa hal itu tidak terjadi pada si A? Haruskah kita melulu menyalahkan video itu?

Jujur, sampai detik ini saya tidak pernah melihat video itu --mungkin ada beberapa pembaca yang bilang "bohong" atau apa, itu terserah kalian, tapi memang sampai saat ini saya tidak pernah melihat video itu-- awalnya memang dulu saya sempat penasaran sama video itu, bahkan saya sudah mentransfer video itu ke HP saya via Bluetooth dari teman saya, niatnya ingin ditonton bersama teman-teman saya yang lainnya, hanya sekedar untuk tahu aja, saya risih sekali video itu berada di kotak masuk pesan saya, lalu saya mengatakan saya ga mau kalau video ini ada di HP saya, akhirnya video itu saya kirim ke HP teman saya dan saya delete dari HP saya. Setelah itu saya ngobrol-ngobrol sama teman saya yang lain, saya bilang belum lihat video itu, padahal sudah saya kirim ke HP saya, teman saya itu yang cukup mengenal saya, dia bilang "Kalo lo belum lihat, mending ga usah, soalnya juga lo kan ga pernah lihat video sejenis itu sebelumnya, jangan lah.." akhirnya saya memutuskan untuk tidak melihat video itu, meskipun ada beberapa yang bilang tidak apa-apa.

Cerita saya itu, bukan maksud saya ingin pamer kalau saya tidak melihat video itu. Tapi saya hanya mencontohkan kecil, kalau ada yang membentengi diri untuk tidak menonton itu kenapa harus ada yang membiarkan matanya menyaksikan video itu?

Kembali pada kasus video itu, pagi ini saya melihat di salah satu acara gosip di salah satu stasiun TV yang menayangkan tentang demo besar kasus Ariel. Sebenarnya saya bukan penggemar Ariel (malah kalau Mama saya memuji Ariel karena beliau salah satu penggemar Ariel, saya suka "mengolok-ngolok" kalau Ariel masih kalah sama Pasha vokalis Ungu, band idola saya) di benak saya "aneh" dan timbul pertanyaan, "Apakah kalau pelakunya bukan Ariel, akan dilakukan demo sebesar itu juga kah?". Setahu saya ada pemberitaan tentang pencabulan pada beberapa anak yang dilakukan orang yang sama, saya tidak pernah melihat ada pemberitaan demo untuk si terdakwa. Lalu apakah hal yang terjadi ini semata-mata hanya karena satu nama? ARIEL? Bagaimana kalau namanya diganti dengan BEJO?

Sunday, December 12, 2010

Entah

Entah

sebentar malam, jangan kau pergi
duduk sebentar temani gundahku
tentangnya...
yang lama tak kujumpa
kutemui di tengah keramaian
ketika matahari lekas hentikan pendarnya
dia...
senyumnya pekat di mimpiku
suaranya mengiang
menjadikannya kisah singkat
yang sulit kulebur untuk sekedar jadi kenangan
malam...
waktumu tak banyak lagi temani kubercerita
tentang kisah ini
tentang rasa,
yang tak tahu lagi ke mana kan berarah
pergilah malam...
biar kumengadu saja pada embun esok
entah apa lagi yang kan kuadu
mungkin hanya sebongkah tangis
pereda rindu

Silvia Ratna Juwita
Minggu, 12 Desember 2010, 21:42

Wednesday, December 1, 2010

Selamat Hari Ulang Tahun yang ke-15

Mengenal sesosok pribadi yang istimewa, indahnya ia mengisahkan kisah hidup bersama belahan jiwanya, aku semakin mengenalnya dan kekasih hatinya, mengenal kebaikan hati mereka hingga aku menyayangi mereka, dua pribadi yang bijak dan memotivasi hidupku, kuperhatikan setiap langkahnya dalam kata, kebersamaan hidup dalam suka dan duka, kubaca perjalanan album kenangan mereka, tentang cinta yang indah, cinta yang di mataku sesungguhnya cinta, dua kepribadian yang menyatu dan saling melengkapi.

Lima belas tahun sudah mereka bersama, dengan kesempurnaan cinta mereka. Hanya mampu kuselipkan doa-doa terbaik untuk mereka, untuk melengkapi kebahagiaan mereka seutuhnya. Semoga Allah menjadikan doa harapanku dan mereka dalam bentuk kenyataan.

Foto Pernikahan Ibu Elvi Susanti dan Bapak Budi Putra.

SELAMAT HARI ULANG TAHUN PERNIKAHAN yang ke lima belas Ibu Elvi Susanti dan Bapak Budi Putra.
Semoga kebahagian kan selalu ada untukmu, salam sayang selalu untuk Ibu dan Bapak dari Silvi.

Tuesday, November 16, 2010

KUCING

Di sini aku tidak menulis puisi dangan judul kucing. Aku hanya berbagi cerita tentang kucing yang selama kurang lebih 13 atau 14 tahun. Kucing pertamaku itu namanya Rambo, berwarna belang, dia kucing berjenis kelamin perempuan. Aku ingin cerita tentang beberapa kucing yang masih sangat teringat jelas di benakku.

1) Rambo (warna belang)
Kucing pertama yang aku punya, dia itu titipan dari tetangga depan rumahku yang pindah rumah. Mereka tidak membawanya, entah apa alasannya. Mungkin karena mereka pindah jauh. Kebiasaan dia, dia itu paling suka sama Ubi rebus --heran aku juga-- kalau ada tukang bajigur dia suka mengeong bahkan sampai menginjak-injak kakiku kalau aku lagi tidur.

2) Garong (ada dua, warna garong)
Mereka itu suka manjat pohon jambu biji di depan rumahku sampai ke atap rumah, tapi yang satu bisa turun yang satu lagi ga bisa, akhirnya dia ngejerit meong-meong minta turun, dan aku yang akhirnya manjat ke pohon ngambil dia bahkan pernah manjat ke atap rumah. (~__~")

3) Emeng (warna putih ada totol-totol putihnya)
Dia itu paling suka bangunin aku sekitar jam 5.10 - 5.15 pagi. Dia suka naik ke tempat tidur terus muka aku dijilat-jilatin, hidung digigit sama dia sampe aku bangun.

4) Ganteng (warna kuning buntutnya itu bengkok jadi suka diisengin, misalnya dicantelin kantong plastik)
Kebiasaan dia kalau aku berangkat sekolah dia itu suka nganterin aku sampe naik angkot, padahal kasian ngeliat dia cape lari-lari nemenin aku, suka aku gendong kembaliin ke rumah, tapi tetep aku diikutin. Makanya kalau aku berangkat sekolah suka lari-lari, kasian kalau dia ngejar aku. Dia juga suka begitu sama Kakaku, kalau kaka keluar naik motor juga suka dikejar sama dia sampe depan gang (aduuh kangen). Terus kalau aku pulang biasanya dia suka ada di depan warung Bu Selam namanya. Nanti dari warung itu aku beli gorengan (sisa uang jajan) terus aku gendong dia sampe rumah dia sambil makan gorengannya itu. Kalau kakaku pulang juga kadang-kadang dia ada di depan gang terus ngejar sampe rumah. Nangis nulisnya inget si Ganteng. Aku namain Ganteng juga aku suka lihat mukanya, Ganteng aja kesannya. Gagah lah. Aku paling sayang sama dia, soalnya kalau aku lagi nangis dia suka tiba-tiba duduk di paha aku, ngegelesor lah sampe aku mainin perut dia dan ga nangis lagi.

5) Item
Kucingku yang satu ini paling narsis. Pertama kalinya aku punya HP kamera, aku lagi foto-foto di teras rumah. Dia tiba-tiba suka ada di samping, pokonya kalau aku lagi narsis dia tuh suka nongol. Pernah waktu dia tidur aku foto, dia langsung melek dan kadang suka ada gayanya aja. Lucu deh pokonya.

Itu salah satu gaya dia baru bangun tidur. Hahahaha


Tapi sayang, kepindahanku ke Depok memaksa aku pergi dari mereka, aku ga boleh melihara kucing lagi. (T.T)

Monday, October 18, 2010

Mata

Mata itu, berbicara

Mata itu, menggoda

Mata itu, tak banyak yang mampu mengartikan tatapannya

Mata, banyak beri kisah yang tak pernah terbayang di benakmu

Seperti cinta

yang bisa berawal dari mata turun ke hati

meresap ke relung jiwa

tumbuh, menggelora batin

hati-hati menatap

hati-hati bercinta

Karena kamu tak pernah tahu

berapa banyak hati terluka

karena kau salah menatap dan bercinta



Silvia Ratna Juwita

Depok, 21 Agustus 2010

Wednesday, September 15, 2010

Terpaksa Menyendiri

Terpaksa Menyendiri

temanku matahari berhenti menari
di balik sela-sela awan dia berlari
langit teduh pun memayungi
pepohonan melambai; angin membelai
sendu sepertinya senja berganti
sendiri...
kutunggu ia di esok hari
tapi yang datang hanya pelangi
tanpa hujan mengawali
yang ada malah mengakhiri
meski belum jadi teman sejati
aku terpaksa menyendiri

Silvia Ratna Juwita
Depok, 14 September 2010

Thursday, September 2, 2010

Puisi Untuk Panggi yang diwisuda :)

Ibarat tangga..

Kini telah terlewati seribu anak tangga

Kau lalui anak tangga di mana kau dapati riang, pedih, suka, duka yang silih berganti

Kini sudah kau berpijak

Pijakan yang dulu mimpi, kau genggam dalam nyata

Selamat telah tergapainya satu di antara seribu mimpimu

Panggi Libersa Jasri Akadol,S.Kom.


*****
Selamat yah Kang sudah diwisuda :)


Depok, 2 September 2010
Silvia Ratna Juwita

Saturday, August 28, 2010

Ketika Bulan Terbagi



Ketika Bulan Terbagi

Aku pemimpi
Sendiri kumerebah di kamar
Mengosongi serpihan pikiran yang kudapat di balik pintu
Harmoni angin syahdu, melantunkan melodiku
Kesadaran mengambang di langit-langit
Mata lelah terjaga, dan mimpi merajai
Terdengar ketukan di balik daun jendela
Melangkahkan kesadaranku
Ternyata bulan iseng menggodaku
Menyapaku, mengajakku menikmatinya
Yang utuh sendiri
Sinarnya lembut membelai hatiku
Malam yang sempurna
Bulan menjadi milikku sendiri
Sembilan puluh malam, sembilan puluh mimpi
Bulan utuh menjadi kekasihku
Malam sembilan puluh satu
Kudatangi kejora
Bulan dan kejora menari di tengah langit malam
Aku duduk terdiam, hanya mampu memandang
Hanya mampu menikmati, pancaran sinar kebahagiaan mereka
Dan aku kembali menjadi pemimpi


Silvia Ratna Juwita
Depok, 28 Agustus 2010

Saturday, August 14, 2010

Untuk sahabatku Ian, Ety, Anty :)

Untuk sahabatku Ian, Ety, Anty :)

****
Karang
Silvia Ratna Juwita

Menyemai langkah ke pesisir pantai
Melihat deburan air bergelumat hantam karang
Angin tak kalah ramai merobohkan
Dan karang tetap menjadi karang
Dia tetap berdiri meski ikan tak lagi ingin berlindung
Rinai hujan gemercikan ingatan
Mengenang suka dalam duka
Mencairkan kasih dalam kehangatan

=####=
Begitu pula kasih kita sahabat
Yang akan kuat seperti karang
Tetap bersatu, meski dunia menggoda
****

persahabatan tak selamanya manis, dari masa lalu aku belajar, di hidup ini kita tak sendiri, banyak orang2 di sekitar kita. Ada yg suka & ad yg ga. Aku jg belajar bgmn hrs bersikap, terimakasih untuk semuanya sahabat, utk semua kasih sayangnya, kesabarannya, kepercayaannya, semuanya :)
Suatu saat nanti pasti akan ada cobaan lg, tp semoga apa2 yg tlah kita alami, tak lg bsa meruntuhkan apa2 yg ada :)
Vi sayang kalian ^__^
have a nice day =)

Thursday, August 12, 2010

Maafin Vi :'(

Sudah 4 semester aku kuliah, sudah banyak mengenal teman baru, lingkungan baru, semua yang belum pernah aku temui sebelumnya. Kemarin tanggal 22 Juli 2010 aku dan teman sekelasku pergi ke Anyer mengisi waktu liburan, saat itu aku punya teman yang cukup dekat di hatiku, aku menganggap mereka lebih dari teman-temanku yang lainnya. Saat di bus, kami berenam masih bersama, duduk berdekatan, bercanda bersama, tertawa bersama.
Malam pertama tiba di Anyer kami sekelas terbagi menjadi tiga kelompok, kelompok pertama asik bermain "poker", kelompok kedua teman-teman yang cewe asik ngumpul meriung di atas saung pinggir pantai, dan kelompok terakhir hanya tiga orang salah satunya aku, aku dan kedua temanku yang lain asik main "ngerjain". Malam itu meski terbagi tiga kelompok kami masih merasa satu, aku juga masih merasa satu dengan lima teman dekatku yang lain.
Hari kedua di Anyer, jadwal kami adalah pergi ke Pantai Carita, sebelum ke Carita aku masih sempat main air di samping villa yang kami tempati, tapi sekembalinya aku ke kamar, entah kenapa perubahan sikap kelima teman dekatku yang aku rasa cukup sinis, di situ perasaanku mulai ga enak, sedih melihat perubahan sikap mereka yang aku sendiri ga tau apa alasannya, bahkan waktu mau ke Carita teman duduk sebangku di bus pun jadi berubah posisi, aku melihat mimik wajah mereka yang sepertinya sangat benci sama aku dan yang akhirnya duduk di sampingku pun meski masih tersenyum lebar dan aku foto bareng tapi tetap ada perbedaan yang aku rasakan, tapi aku mencoba untuk postive thinking dari semua kejadian itu.
Setibanya di Carita, kami ada jadwal makan siang sebelum mulai main air. Satu bungkus nasi itu porsinya untuk tiga orang, kami berenam terbagi menjadi dua saat makan pun aku melihat temanku begitu sinisnya memberi bungkusan nasi dan sayurnya, selera makanku rusak saat itu juga, aku cuma bisa makan sedikit, rasanya ingin sekali nangis saat itu, tapi aku coba tahan, aku ga mau merusak suasana.
Selesai makan, selesai solat dzuhur kami langsung main banana boat, satu banana bertujuh, empat dari kami berenam, tida lainnya dari teman sekelasku yang lain. Saat-saat main air itu aku merasa keakraban kami memulih, kami merasa baik kembali, apalagi saat kami main ban, aku bertiga dengan teman dekatku. Terasa sekali kebersamaannya, aku pikir mulai saat itu mungkin semua sudah kembali, tapi ternyata setelah semua permainan selesai sikap dingin mereka kembali lagi. Entahlah rasanya aku ingin cepat pulang ke rumah.
Malam terkahir di vila kami ada acara api unggun, games, bakar jagung. Saat bakar jagung aku sudah sangat tidak nyaman dengan kondisinya, dengan acaranya, sikap mereka, dan badanku mulai terasa sangat panas. Aku memutuskan masuk ke kamar sendiri, aku tidur membiarkan jagungku terbakar sendiri. Tak lama kemudian salah satu temanku juga masuk ke kamar, dia tidur di sampingku, dia bilang badannya lagi ga enak. Aku merasa saat itu hanya temanku itu saja yang tidak berubah denganku.
Tiba waktu pulang, aku merasa ingin cepat sampai rumah.
Setibanya di rumah badanku drop, hari minggu aku masih sempat menghadiri workshop bersama temanku, tapi setelah itu rasanya aku sudah tidak punya tenaga lagi. Apalagi ketika melihat status updates temanku di salah satu jejaring sosial yang ingin memutuskan pertemanan dengan teman yang merugikan dan membuat imagenya jelek, saat itu juga aku merasa kata-kata itu buatku. Aku cuma bisa menangis, menahan sakit jasmani dan batinku, aku berusaha mengingat-ingat apa kesalahan sesungguhnya yang telah aku perbuat, kesalahan fatal apa yang aku lupakan. Dua minggu berlalu, kondisi itu juga tak berubah, setiap harinya aku cuma bisa pasrah dan berdoa agar semua terbuka sejelas-jelasnya apa yang telah terjadi. Aku merasa malu dan hina dengan keadaanku sendiri, tapi aku mencoba ikhlas dengan semua yang ada.
Suatu hari aku tak pernah menyangka, temanku yang buat status itu sms aku tentang jarkom, akhirnya aku tak ingin masalah di antara kami larut terlalu lama, kami smsan saling menyalahkan diri sendiri dan meminta maaf. Dan akhirnya aku tau kalau ada yang memberikan omongan yang ga enak tentang aku yang membuat aku kecewa dan yang menyampaikannya adalah salah satu teman dekat kami juga.
Setelah semua masalah terjelaskan sejelas-jelasnya persahabatan mereka berlima merenggang, aku bertiga dengan temanku, dan temanku yang memberikan berita itu dan dua yang lainnya menjalani hidupnya masing-masing.
Sebelumnya aku merasa sangat nyaman dengan keadaan itu, tapi hari ini aku melihat status updates temanku di facebook

:: ini gw apa ada nya !

ga ngerti knpa tiba" kalian brubah ?!
ada yg slah di gw ?
kl mmng ia, mnding di omongin .
...ga hrus ngediemin gw ky gni !

******

Ya Allah ya Tuhanku, aku ga tau lagi, aku merasa salah banget dengan semua yang terjadi saat ini mungkin memang semua yang terjadi saat ini semuanya adalah salahku, mungkin memang seharusnya aku yang tak pernah hadir di antara persahabatan mereka. Sepertinya lebih baik aku yang mundur, aku ga mau persahabatan mereka merenggang hanya karena kehadiranku yang tidak penting. Untuk Ety, Anty maaf kalau Vi membuat semua keadaannya jadi seperti ini, terimakasih untuk semua yang telah kalian berikan, untuk Ian, terimakasih waktu itu sudah menemaniku mengclearkan semua masalahnya, tapi untuk saat ini Vi sadar, Vi cuma bisa buat masalah aja di antara kalian. Persahabatan kalian sayang kalau harus berakhir begini. Terimakasih banyak.

Sunday, July 25, 2010

Puisi tentang hujan

Hujan biasanya banyak memberikan aku inspirasi untuk menulis puisi, contohnya seperti puisi berikut adalah puisi yang aku tweet di Twitter tanggal 29 Juni 2010, saat itu aku lagi duduk di samping jendela bus DEBORAH, kebetulan saat itu suasana lagi hujan.

Rintik kesejukan menyela amarah matahari
Tetap tak dapat menyapu sayat gelisah kenangan pagi
Biar bias rintikan menari di pipi lesapkan pandang seribu mata ini tangisan
Menyekat tangisan alam
Menyambut senja hati yg bergurau
Adanya senandung pengamen dunia
Cukup menjadikan ada senyumanku
Terimakasih Tuhan selalu Kau hadirkan hujanmu di kala amarahku tersengat matahari. :)

Saturday, July 10, 2010

Luna Maya, Ariel, Cut Tari


Kemarin tanggal 9 Juli 2010, setelah solat subuh aku tidur lagi. Tapi TV di kamar aku ga matiin, sekitar jam tujuhan aku bangun lagi, seperti biasa acara gosip jam segitu sudah pada "gentayangan" dan sudah bisa dipastikan gosipnya pasti lagi-lagi tentang video skandal dari tiga publik figur Indonesia yang lagi BOOMING. Bosen sih sebenernya berita yang disampaikan tentang mereka terus dan dari hari ke hari semua beritanya juga sama aja, tentang status mereka yang masih dipertanyakan, sikap mereka, sikap para tokoh masyarakat, semuanya intinya sama, jadi yah cukup males ngelihatnya. Tapi kali ini aku melihat gosip itu cukup berbeda, sedikit melihat kilasan Cut Tari yang lagi menangis di depan wartawan terus sama Luna Maya yang lagi tertunduk. Inti beritanya mereka mengadakan jumpa pers untuk meminta maaf, tapi di situ ditegaskan permintamaafan Luna Maya dan Cut Tari bukan berarti pengakuan mereka atas video tersebut. Tapi mereka meminta maaf karena mereka merasa bersalah karena telah banyak mengganggu masyarakat banyak dari pemberitaan-pemberitaan tentang mereka sehingga banyak menimbulkan dampak negatif ke masyarakat. Dan berita selanjutnya yang aku lihat dari twitter Luna Maya, Cut Tari menyusul Ariel menjadi TRIO TERSANGKA, tapi Luna sama Tari tidak ditahan. Heemph... kalau begitu sekarang beritanya bukan video mirip artis lagi kan? tapi video artis? :)
Tapi apa pun yang terjadi semua diproses berdasarkan hukum yang berlaku dan ini semua menjadi pelajaran buat yang bersangkutan maupun yang tidak bersangkutan.

Marmut Merah Jambu (MMJ) -Apresiasi Sastra-


 MARMUT MERAH JAMBU

Dalam memahami karya sastra hendaknya pembaca mengenal berbagai macam teori, yang salah satunya berupa teori ekspresif yang akan saya gunakan untuk mengapresiasi buku Marmut Merah Jambu milik Raditya Dika Nasution.
Dalam pendekatan ekspresif karya sastra dipandang sebagai ekspresi sastrawan. Kriteria yang dikenakannya adalah ketepatan karya sastra dalam mengekspresikan kejiwaan sastrawan. Ketika menulis karya sastra, sastrawan tidak bisa lepas dari sejarah sastra dan latar belakang budayanya (Pradopo, 1995: 108). Karya sastra tidak lahir dalam kekosongan budaya (Teeuw, 1980: 11, 12).
Karya sastra menceritakan berbagai masalah kehidupan manusia dalam interaksinya dengan diri sendiri, lingkungan, dan juga Tuhan. Karya sastra berisi penghayatan sastrawan terhadap lingkungannya. Karya sastra bukan hasil kerja lamunan belaka, melainkan juga penghayatan sastrawan terhadap kehidupan yang penuh kesadaran dan tanggung jawab sabagai sebuah karya seni.
Kedua paragraf adalah alasan saya mengapa saya menggunakan pendekatan ekspresif dalam mengapresiasi buku ini. Dikarenakan buku ini adalah kisah nyata dari penulisnya sendiri jadi apa yang dituliskan dalam buku ini tidak terlepas dari sejarah dan latar belakang budaya si penulis yang notabennya juga merupakan peran utama dalam buku ini. Begitupun tokoh-tokoh lain yang diceritakan merupakan keluarga dari si penulisnya sendiri.
***
Marmut Merah Jambu merupakan buku kelima dari Raditya Dika Nasution yang akrab dipanggil Radith (lahir di Jakarta, 28 Desember 1984). Buku MMJ (Marmut Merah Jambu) ini bertemakan tentang pahit manisnya percintaan. Dia menggabungkan cinta dengan komedi dalam penulisannya.
Sebelumnya Radith adalah pemenang Indonesian Blog Award atas catatan harian yang ditulis di blognya. Dari pengalaman itu dia mencetak tulisannya kemudian ia menawarkan naskahnya itu ke beberapa penerbit untuk dijadikan buku dan penerbit Gagasmedia yang menjadi penerbit buku pertamanya saat itu, setelah sebelumnya banyak penerbit yang menolak tulisannya.
Radith hadir dengan genre baru dan berbeda dari penulis sebelumnya. Yang membuat dia berbeda adalah dia selalu menggunakan nama binatang pada setiap bukunya. Kambing Jantan, adalah buku pertamanya dilanjut dengan Cinta Brontosaurus, Radikus Makan Kakus, Babi Ngesot.
Radith merupakan sulung dari lima bersaudara, Yuditha, Ingga-Inggi (kembar), Edgar merupakan adiknya. Radith memasukkan nama mereka ke dalam buku MMJ-nya sebagai tokoh-tokoh sebagaimana aslinya. Karena MMJ ini merupakan kisah nyata catatan percintaanya dan sekitarnya. Mengapa dikatakan demikian, karena pada bagian Pengantar Penulis Radith menuliskan “Oh ya, beberapa nama di buku ini disamar, tetapi tempatnya semuanya benar.” itu yang membuat pembaca mengerti bahwa buku MMJ merupakan kisah nyata si penulisnya apalagi tokoh utama dalam buku ini merupakan penulisnya sendiri, Radith.
MMJ dimulai dari kehidupan Radith waktu ia duduk di bangku SMP, ia menuliskan SMP Tarakanita dalam buku ini yang juga merupakan SMP sebenarnya seorang Raditya Dika. Dia menceritakan bagaimana dia dan sahabatnya yang mencintai orang diam-diam, penceritaan yang disampaikan begitu konyol membuat pembaca menjadi tertawa geli ketika membaca bagian-bagian yang disampaikan dengan banyolan khas seorang Raditya Dika, seperti diketahui sebelumnya Radit dikenal sebagai sosok penulis yang khas dengan komedi, banyolan, humor yang cablak, sehingga tak heran kalau di dalam buku ini kita akan menemukan ungkapannya yang cablak.
Dalam buku ini juga menggunakan latar tempat, lebih tepatnya daerah Jakarta Selatan sering dituliskan di buku ini seperti Kemang, Pondok Indah Mall, McD, dan lain sebagainya, dikarenakan tempat tinggal Radith yang berada di Jakarta Selatan tepatnya di Cikatomas, Kebayoran. Tempat tinggal Radith memang tidak disebutkan dalam buku ini, tetapi saya mengetahui pasti di mana dia tinggal karena saya merupakan pengajar les privat untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia adiknya, Edgar Nasution, yang saat itu duduk di kelas 6 (enam) SD.
Saya cukup mengenal karakter Edgar sebenarnya, persis seperti apa yang dituliskan Radith dalam bukunya ini. Meskipun saya tidak mengenal langsung Radith dan ketiga saudaranya yang lainnya tapi saya cukup mengenal karakternya dikarenakan situs jejaring sosial Twitter. Di situs itu saya mem-follow mereka, jadi dari gaya bahasa yang mereka gunakan untuk percakapan mereka sehari sudah cukup jelas menggambarkan watak mereka, sehingga ketika membaca MMJ ini pewatakan pada tiap tokoh adalah benar adanya.
Jadi, karena buku ini merupakan kisah nyata si penulis latar sosial dan budaya yang disampaikan dalam buku ini merupakan latar sosial dan budaya yang ada sebenarnya di sekitar penulis, begitupun dengan penokohan yang ada merupakan gambaran jati diri orang yang sebenarnya hanya ada beberapa yang disamarkan.
Karena Radith merupakan remaja jadi gaya penulisannya adalah bahasa remaja sekarang yang lebih sering disebut dengan bahasa gaul, begitupun pesan-pesan yang disampaikannya di setiap akhir bagian dari setiap babnya.
***
Apa yang disampaikan Radith dalam buku MMJ (Marmut Merah Jambu) merupakan penceritaan kembali tentang apa yang dialami dalam hidupnya. Radith yang menampilkan watak dirinya apa adanya dalam buku ini. Meskipun bahasa yang digunakan dalam buku ini adalah bahasa lisan bukan bahasa tulisan, Radith mampu menghadirkan inovasi baru dari beberapa penulisnya. Ia hadir dengan genre baru, yaitu menggunakan nama-nama binatang dalam setiap tulisannya.
Kesimpulan berdasarkan pendekatan ekspresif adalah apa yang ditulis Radith dalam MMJ sesuai dengan latar sosial dan budaya si pengarang sendiri. Begitu pun dengan karakter yang ada, semua ditulis sesuai dengan apa yang Radith alami dalam hidupnya.


(Yang di atas gambar aku sama Raditya Dika waktu ada event GOL AMAL YAHOO! Minggu, 4 Juli 2010 di Plaza Barat Senayan)

ABANG SOTO, I LOVE YOU


ABANG SOTO, I LOVE YOU

Liburan semester ganjilku cukup panjang. Aku dan teman-temanku semua sudah punya rencana apa yang akan kami lakukan di waktu liburan nanti.
”Ntar liburan lo ngapain? Gue palingan ngisi liburan dua bulan nanti kerja lagi jagain baju di DM.”
Ucap Ari yang biasa dipanggil Gery yang diambil dari nama Gery Iskak,, filosofinya waktu itu sedang booming-nya gosip tentang Gery Iskak yang menggugat cerai istrinya dan Ari terkenal dengan cowok yang punya banyak korban wanita, di kelas saja sudah ada tiga, termasuk aku, hahaha.. tapi sampai sekarang kami masih bisa bersahabat baik, tidak dengan kedua cewek teman sekelas kami. Ari biasanya suka mengisi liburannya dengan bekerja sebagai SPB (Salles Promotion Boy) di salah satu mall dekat rumahnya di daerah Cengkareng.
”Lo mah enak masih ada kegiatan, gue palingan bengong di rumah. Pengen liburan ke luar kota deh rasanya.. huuumph...”
”haaah palingan ntar lo sering jalan-jalan Ju...” sahut Ari.
Juju, begitu Ari biasa memanggilku.
***
            Waktu liburan sudah beranjak ke minggu kedua bulan terakhir liburan. Bunyi sms hapeku bunyi, ternyata dari Eyha, teman sekelasku yang rumahnya tidak jauh dari rumahku. Isinya dia memintaku untuk mengajarinya mengendarai motor. Berhubung aku tidak ada acara, aku pun menyetujui. Dia datang ke rumahku sekitar jam sembilan pagi. Kami pun langsung pergi menuju komplek perumahan dekat rumahku, karena perumahan itu tidak ramai mobil, munkin hanya mobil yang terparkir saja.
            Motor pun beralih pengendaranya, aku dibonceng Eyha.
”Vi, takut Vi ah gue, takut jatoh nih..”
Itu yang sering Eyha ucapkan saat kedua tangannya sibuk menyeimbangkan stang motor.
”Tenang Yha, slow aja.”
Itu yang cuma bisa aku ucapkan.
            Ketika Eyha sudah mulai lancar mengendarai motor tiba-tiba melintas di depan kita kereta dorong bayi dari arah rumah sebelah kanan, kami kaget dan Eyha mendadak ngerem dan keseimbangan menghilang. Hasilnya..
GUBRAAAAK...
Kami terjatuh ke perkarangan salah satu rumah yang bersebrangan dengan rumah di mana kereta dorong bayi itu datang, untung bukan luka berat hanya sedikit membiru karena kebetulan kami jatuh di bagian taman yang ada beberapa pot besar di sana. Tapi saat itu pikiran kami hanya tertuju pada kereta dorong itu, apakah bayi yang ada di dalamnya baik-baik saja, ternyata saat kami mau ngecek, datang pembantu dari rumah itu.
”Maaf yah Mbak, ini kereta tadi dimainin sama anak majikan saya, dia lagi mainan.”
HAAAH!!
***
Motor aku ambil alih, kami mencari tempat yang lebih aman untuk latihan motor, tidak ada kereta dorong bayi kosong. Lalu kami pergi ke Cibubur, di depan GOR POPKI Cibubur ada lapangan yang cukup luas. Aku mendekati pohon yang ranting dan daunnya cukup lebat untuk duduk di bawahnya berteduh dari panasnya matahari yang mulai bangun. Eyha pun sibuk dengan motor, dia belajar mengitari lapangan itu. Kira-kira lima kali putaran, satpam panti jompo dekat lapangan itu mendekat ke arah Eyha. Eyha menghentikan kendaranya dan aku melihat mereka sedang berbicara. Selesai bicara Eyha menghampiriku.
”Vi ga boleh belajar motor di sini kata Bapak satpamnya!!”
”Loh ko gitu? Yaudah kita cari tempat lain aja.”
Motor kembali aku yang mengendalikan. Lagi perjalanan kami berdua bingung mau ke mana dan aku memutuskan mengajak Eyha ke mall di Cengkareng tempat Ari bekerja. Eyha pun menyetujui.
            Setibanya di sana jam setengah dua siang, kami berdua tidak langsung menuju toko baju tempat Ari kerja, tapi kami pergi ke restoran di mall itu. Setibanya di restoran Eyha bilang kalau dia tidak bawa dompet, dia hanya bawa uang Rp20.000,00 saja
”Tenang Yha, gue ada duit enam puluh ribu ko, pake duit gue dulu aja yah..”
Jawabku santai.
Di restoran itu kami menghabiskan Rp47.000,00, jadi uang yang tersisa di aku dan Eyha ada Rp33.000,00. Setelah itu kami pergi ke tempat tujuan utama, tempat kerjanya Ari. Setibanya di sana aku bertemu dengan Ari, aku dan Eyha berbicara layaknya pembeli dan SPB, Eyha meninggalkan kami berdua di pergi ke bagian sepatu.
            ”Lo pura-puranya beli apa ke gitu, kemeja deh ada yang murah nih. Lagi diskon tau!”
Ari membuka pembicaraan sambil melipat-lipat baju yang ada di box baju. Kami seperti main kucing-kucingan karena saat itu manajernya Ari sedang memperhatikan ke arah kami.
”Kemeja apaan? Boleh sih buat kadonya Bang Dzul, tapi duit gue tinggal tiga puluh tiga ribu.”
”Ada nih kemeja, totalnya kalau didiskon jadi sekitar dua puluh lima ribuan.”
Aku yang mikir duitnya masih 33 ribu dan di ATM masih ada 59 ribu akhirnya mengiyakan. Tetapi aku masih bertanya pendapat Eyha.
”Yha, kemeja dua puluh lima ribuan, beli ga yah buat kadonya Bang Dzul?”
”Ah yang bener Vi, udah beli aja, beli dua sekalian”
”Yaudah deh gue beli satu aja..”
Ari melipat baju dan mengemasnya ke dalam plastik dan aku dengan Eyha pergi ke kasir. Saat di kasir ternyata angka rupiah yang tertulis di mesin kasir adalah Rp59.000,00. Aku dan Eyha seperti ditampar air dalam volume yang besar, semua sudah terlanjur, kalau tidak jadi membeli adalah hal yang paling tidak mungkin.
”Tapi kata Mas-masnya diskon gitu.”
Aku mencoba memberanikan diri menunjuk Ari dengan gaya seolah-olah masih tidak mengenal dia.
Mbak kasir pun memanggil Ari.
”ARIIII...!”
Suara itu terdengar menggelegar, membuat perutku seperti berkontraksi.
Mbak kasir dan Ari membicarakan sesuatu dengan menunjuk ke arah daftar harga. Ternyata persoalan itu berbuntut panjang. Manajer toko itu menghampiri dan memang kemeja itu masih ada diskon yang belum dihitung. Setelah dihitung ternyata totalnya Rp37.900,00. Tetap saja uang yang aku punya tidak cukup tapi setelah mengacak-acak dompet dan kantong ternyata ada Rp39.000,00. Selamatlah aku dari tragedi kasir. Aku dan Eyha memutuskan pulang.
Setelah berpamitan dengan Ari kami menuju lobi belakang mall, saat aku memeriksa dompet, masih ada uang 5 ribu yang terselip di balik STNK motor.
”Yha masih ada duit 5 ribu nih, haus gue, lo beliin minum yah, gue ngambil duit dulu di ATM.”
Saat aku di depan ATM mengikuti prosedur mengambil uang, dan menunggu loading, hasilnya
MAAF SALDO TIDAK MENCUKUPI
Stress mendadak menyerang, aku berlari ke arah Eyha yang lagi duduk di tukang soto mie dengan wajah stress sepertinya karena Eyha melihatku penuh kestress-an.
”Eyha, duitnya ga bisa diambil, gimana nih kita? Belom bayar parkiran terus motor gue bensinnya abis. Kacau nih.”
”Terus gimana?”
”Lo ada pulsa ga? Gue mau telpon Ari dah.”
”Hape gue kan mati.”
”Yaudah tukeran simcard, pake hape gue aja.”
Kami sibuk, cemas, gelisah, bingung, lengkap sudah rasanya. Selesai tukeran simcard hapeku ikutan mati.
”Yah, Eyha mati nih hape gue!!”
“Terus gimana dong?”
“Pinjem chargeran abang soto aja deh.”
Tanpa pikir panjang aku pinjam charger milik abangnya. Tapi chargernya tidak cocok. Akhirnya aku nekat minjem hape Abang soto.
”Abang, boleh pinjem hapenya ga buat nelpon? Please Bang penting banget, boleh yah?”
Abang sotonya hanya nyengar-nyengir, tapi untungnya dia adalah orang yang baik. Di situlah Abang soto adalah malaikat penyelamatku hari itu. Aku menghubungi Ari dan menyuruhnya membawa uang. Masalah pun terselesaikan.
Abang soto you’re my fairly. Thank you so much.