Tuesday, February 22, 2011

Double Red Maroon (Silvi and Anggun) at Kubah Emas


Liburan sudah mau masuk ke minggu ketiga. Cukup bosan dengan rutinitas yang lebih banyak dihabiskan di rumah saja. Meskipun selama liburan ini aku memang lebih suka di rumah daripada menghabiskan waktu di luar. Apalagi sekarang ini aku lagi senang menghabiskan waktu dengan tawa bersama Mama, karena selama aku kuliah waktuku terpotong banyak di kampus dan ngajar sepulang kuliah, kalau tiba di rumah pun rasanya badan sudah capek jadi aku sering memutuskan langsung tidur. Menunggu mataku terlelap memang cukup lama, kadang kuhabiskan dengan online di hape sampai hapeku error. Hahahahahaha……..
Walaupun begitu tetap aku merasakan ingin mendapat sedikit refreshing pada waktu liburan semester kali ini.
Tepatnya siang dua hari yang lalu, tanggal 20 Februari, aku ingat dengan sahabatku Anggun Citra Dini Dwi Puspitasari --panjang memang namanya-- yang biasa kupanggilnya Anggun. Rasanya aku ingin jalan-jalan bersama sahabatku itu. Tak lama kemudian, malamnya Anggun mengirimkan wall di Facebook ku.
"Silvi,,sehat???? Silvi kita ke seven eleven lg yuk!!! numpang minum slurpee di sana...heeee"
Langsung saja tanpa pikir panjang aku langsung komen, dan mengajaknya jalan-jalan. Tadinya aku bingung mau mengajaknya kemana, tapi tiba-tiba terlintas ingin sekali pergi ke Masjid Kubah Emas, yang masih satu daerah dengan tempat tinggalku Depok, tapi tepatnya di Limo, Cinere - Depok.
Akhirnya kami menyepakati untuk berangkat ke Kubah Emas esok harinya. Anggun mengatakan akan berangkat sekitar pukul 9-10 pagi dan kita ketemuan di perempatan lampu merah Gunadarma.
Keesokan harinya, aku bangun pagi, menjalankan rutinitas seperti biasanya, nyapu, nyuci piring, bersihin kandang hamsterku. Saat aku membersihkan kandang hamster, aku terkejut karena hamsterku berkurang satu, Sally namanya, tersontak aku dan teriak "Mamaaaa... Sally ga ada, ilang, kabur kayanya..", moodku hari itu rasanya langsung jelek, hampir saja kuputuskan untuk gagal jalan-jalannya. Aku mencarinya keliling rumah, dari kamar Mama, ruang tamu, ruang makan, kamar mandi, ruang di bawah tangga, taman belakang, ruang kerja, dapur bersih bahkan sampai garasi dan dapur kotor yang letaknya ada di luar rumahku. Tetap saja tak tampak batang hidungnya. Sedih sekali rasanya harus membayangkan Sally tak ada. Yang aku sedihkan aku berpikiran bagaimana dia makannya, minumnya kalau berada di luar kandang.
Tapi keputusan untuk meng-cancel acaraku hari ini sama Anggun adalah hal yang ga etis. Janji tetap janji. Aku terus belajar, supaya sebisa mungkin aku menepati janji.
Sekitar pukul delapan pagi, Anggun menghubungiku, dia mengabarkan kalau dia berangkat sekitar pukul 10, aku pun mengiyakan. Selesai beres-beres, aku memutuskan tidur kembali sekitar satu jam.
Satu jam aku terlelap, tubuhku rasanya masih ingin menempel di tempat tidur. Tiba-tiba hapeku berbunyi, ada sms dari Anggun, dia mengabarkan kalau dia sudah naik angkot 112. Aku tersontak bangun dan bergegas mandi. Entah sepertinya jalanan jalur 112 Jalan Raya Bogor dan Akses UI sepertinya lengang, selesai mandi, Anggun sudah sampai di Pasar Pal dekat rumahku. Aku meminta Anggun untuk naik ojek dari perempatan Gunadarma ke rumahku. Saat aku memakai bedak, Anggun sudah tiba di depan rumahku --dia hebat juga tahu rumahku, karena sebelumnya dia belum pernah ke rumah, ternyata dia mengenali rumahku dari foto yang ada di hape--. Kami berdua tidak janjian, untuk pakai baju apa, ternyata kami berdua sama-sama menggunakan baju berwarna merah maroon.
Anggun menungguku siap-siap, lalu kami sarapan. Selesai sarapan, kami memutuskan untuk berangkat setelah adzan dzuhur. Berhubung kami berdua perempuan, mengisi waktu kosong yang baik adalah berfoto ria alias narsis di kamarku. Hhahaha..
1298367096955634108
Adzan dzuhur tiba, kami bergegas untuk berangkat, kami berdua juga tidak janjian untuk sama-sama mendapati tamu bulanan. Hhohoho…
Saat menuruni tangga dari kamarku, aku masih berkemas-kemas dengan tas warna puti, Anggun yang sedang asik melihat taman belakang rumah, sepertinya melihat ikan-ikan di kolam, masuk dan memberitahuku sambil menunjuk ke arah kamar mandi dekat kamar Mamaku, dia bilang “Sil, itu satu lagi hamsternya…”. Ouh Sally, akhirnya kamu ketemu juga.
Mood-ku kembali membaik dan langsung berangkat!!
Sebelum tiba di Masjid Kubah Emas, kami mampir dulu ke Alfamart membeli batu baterai untuk kamera digital *bener-bener niat mau foto, hhahaha*. Setiba di Masjid aku mengganti sendal jepit dengan sepatu high heels, huahaha, suka lucu ingetnya, terlalu niat sepertinya untuk narsis. Biarlah sekali-kali ini. Hhihihihihii…
1298367176211617924
Baru jalan beberapa langkah kami pun sudah ambil beberapa foto diri. Baru saja beberapa foto, langit sudah bocor, hujan tak tertahan kami pun berlari, mana pintu masuk khusus wanitanya berada di bagian belakang. Dengan high heels aku berlari sekencang mungkin, jari kelingkingku pun lecet, *periiih*.
Kami menitipkan sandal dan sepatu kami, lalu bergegas ke depan masjid. Kami duduk di tiang-tiang, bersembunyi dari balik arah angin yang menghembuskan hujan ke arah kami. Dalam kondisi begitu pun jiwa narsis kami tidak punah, masih saja bergejolak semangat '45, sekitar 27 foto, hujan pun reda. Kami berkeliling Masjid sambil foto-foto, entah sudah berapa banyak foto di camdig saya.
Kami masuk ke dalam Masjid hanya untuk melihat bentuk di dalamnya. Ini kali ketiga aku ke dalam masjid, tapi aku masih merasa takjub dengan kemegahan Masjid ini. Masjid yang megah dengan lampu hias yang menggantung indah, di mana atap bangunan ini bargambar langit. Kesan kokoh pun tidak terlewatkan. Subhanallah, rumah Allah yang indah. ^_^
Setelah selesai meluapkan kekaguman kami, kami keluar bangunan Masjid. Session foto pun dilanjutkan, sampai memori camdig saya habis, dilanjutkan dengan hape kami berdua.
Kenyamanan kami berdua terganggu ketika berfoto. Ada Mas-mas tukang foto keliling yang menggoda centil dengan gaya alay-nya --maaf kami tidak bisa menghargai anda, karena anda pun tidak menunjukkan sikap untuk dihargai--. Kami pun pergi ke arah samping kanan masjid. Di sana banyak orang-orang yang melakukan hal yang sama dengan kami, berfoto-foto. Bangunan masjid memang sangat indah arsitekturnya. Tak pernah bosan melihatnya. Rumah pemilik masjid pun tak kalah megah, rumahnya sangat besar.
Setelah puas berfoto-foto kami memutuskan untuk makan bakso, tapi hujan belum mengizinkan kami pulang. Kami pun berteduh sambil melihat-lihat hasil foto kami.
Hujan reda, kami pun bergegas dan makan bakso. Lalu kami pun pulang ke rumah masing-masing.
Refreshing singkat namun menyenangkan. ^_^
12983668951877916698

Monday, February 21, 2011

Simfoni Hitam dan Dirinya




Simfoni Hitam by Sherina

Malam sunyi kuimpikanmu, kulukiskan kita bersama
Namun slalu aku bertanya, adakah aku di mimpimu
Di hatiku terukir namamu, cinta rindu beradu satu
Namun slalu aku bertanya, adakah aku di hatimu
***
Tlah kunyanyikan alunan-alunan senduku
Tlah kubisikkan cerita-cerita gelapku
Tlah kuabaikan mimpi-mimpi dan ambisiku
Tapi mengapa ku takkan bisa sentuh hatimu
***
Bila saja kau di sisiku, kan ku beri kau segalanya
Namun tak henti aku bertanya, adakah aku di rindumu
***
Tak bisakah kau sedikit saja dengar aku
Dengar simfoniku
Simfoni hanya untukmu….

      Pertama kali dengar lagu itu waktu aku lagi nonton FTV --lupa judulnya--. Awalnya aku pikir lagu itu 'seram' karena bunyi 'tuts' pianonya terasa horor di telingaku. Tapi karena begitu sering diulang lagunya, sepintas kudengar lagu ini sepertinya sedih. Langsung saja aku nge-search lagu dan liriknya.
GLEEEEEK....!!!!
     Lagu ini menggambarkan apa yang sedang aku rasakan saat ini, semua yang selama ini menyesakkan hatiku, membuat mataku tak ingin terlelap cepat, selalu menunggu larut menghantarkan jiwaku ke alam mimpi.
     Biasanya rasa yang selama ini kumiliki selalu kuutarakan dalam bentuk puisi, sengaja kumainkan jemari, menekan tombol-tombol keyboard huruf yang berbaris menjadi kata, setidaknya mampu membuatku melepaskan dan melampiaskan rasa. Jujur aku ini termasuk orang yang tidak bisa menjaga, menutup rapat-rapat perasaan, bisa-bisa makhluk Adam itu --jika peka-- mengerti jelas apa yang kurasa terhadapnya.
     Kembali ke lagu Simfoni Hitam. Ingin sekali kuperdengarkan lagu ini pada dirinya, ingin sekali rasanya dia mendengar sedikit saja apa yang aku rasakan selama ini. Memang belum lama, tapi rasanya hatiku sudah terlanjur dalam mengukir indah namanya.Pernah sekali kutuliskan sebuah puisi untuknya berjudul Entah, mungkin dia menjadi salah satu pembacanya tapi dia tak pernah tahu tahu kalau puisi itu untuk dirinya. Untuk dia yang membuatku belakangan ini menjadi seseorang yang selalu galau. ckckck...
      Hahaha, bahasanya galau. Tapi memang benar begitu kenyataannya.
      Simfoni Hitam memang hanya sekedar lagu sederhana, tapi kesederhanaannya itu yang secara megah menyuratkan isi hatiku. Benar selama ini diam-diam aku mengagumi dirimu, yang begitu cepatnya mencuri hatiku yang masih ragu memiliki rasa untuk siapa. Tapi pertemuan itu menggoda hatiku yang masih ingin berkelana, saat ini tertambat pada dirimu, entah untuk sementara atau selamanya.
      Sebenarnya aku tak pernah membayangkan kalau kamu adalah sosok laki-laki yang akan pernah menempati bangku kosong dalam hatiku. Aku sendiri tak pernah percaya akan rasa ini, tapi aku salah telah membiarkan hati ini bermain-main.
      Hingga setiap malamnya aku hanya bisa mencoba hadirkan bayangmu dalam mimpiku, hanya bisa kulihat gambar dirimu, semua hanya bisa kulakukan diam-diam tanpa sepengetahuanmu.
      Tapi tak kupungkiri, aku juga selalu bertanya apa kamu juga akan melakukan apa yang kulakukan, setidaknya apakah aku pernah kau pikirkan walaupun itu hanya sejenak, secepat detik berganti? Tanpa kamu jawab seharusnya sudah aku mengerti, tak pernah sedikit pun aku terlintas dalam benakmu.
HUAHAHAHA... NGENES AMAT!!
      Mungkin aku yang salah telah membiarkan rasa terlarang ini terus menancapkan akarnya, mengikat, menjerat, dan selalu menyesakkan. Rasanya kalau rasa dalam hati ini berbentuk lembaran dalam buku ingin sekali kucarik lembarannya, kurobek, kuremas, kubakar, dan kuguyur dengan air sisa abu yang ada, hingga tak ada lagi abu kenangan yang tersisa. Dan buku tetap menjadi buku, mungkin hanya lembarannya saja yang berkurang tapi semua tetap rapih, tak ada lembaran kisah yang masih harus terpaksa disimpan dan perih jika membuka dan membacanya lagi. Sayang itu hanya khayalan. Karena pada kenyataannya hatiku bukan lembaran, bukan sebuah buku.
     Aku menyadari bahwa kamu yang kuimpikan tak pernah mengerti apa yang kurasa, meski selalu kutitipkan rindu ini dalam setiap doa dan sujudku --aku memang bukan manusia yang pandai dalam berdoa, sebaik manusia yang lebih baik dariku-- terlihat 'ramah' terhadap seorang wanita yang cukup ku tahu dia cantik wajah dan peringainya. Sadar aku, lelaki mana yang tak cinta akan dirinya. Aku pun sebagai wanita mengaguminya, aku banyak belajar darinya, bukan untuk menjadi dirinya tapi aku belajar menjadi wanita yang lebih baik setidaknya seperti dirinya. Karena aku pernah dengar, lihat, dan tahu kalau laki-laki yang baik akan mendapatkan wanita yang baik pula, begitupun sebaliknya.
      Seharusnya aku menyadari kalau mawar ini berduri jika kubiarkan tumbuh di hati, tapi itu pilihanku. Kuambil resiko mencintaimu, memilihmu menjadi seseorang yang kudamba membimbingku untuk melangkah di jalan-Nya. Dan duri kini menancap tajam, merobek, memang tak berdarah, hanya membekaskan luka. Tapi aku bersyukur Allah mengizinkan aku merasakan luka ini, merasakan perih ini. Karena dengan itu, sekarang aku mengerti tentang rasa yang sama sekali tak pernah terjamah, tak pernah terlihat karena sebuah pilihan, aku memilih memendam rasa ini tak ingin lagi kamu yang kucinta tahu apa yang ada di hatiku, seperti mereka yang lalu. Aku tak pernah menyalahkanmu akan luka ini, karena kamu memang laki-laki yang baik, hanya aku yang mungkin telah salah mengartikannya.
WEHEHEHEUUU.. MELANKOLIS NIH AH!!
       Tapi aku yakin semua ini adalah takdir dari-Nya. Kujadikan semua ini pembelajaranku mengenal sebuah kehidupan di mana Dia bisa menjadikan hati hamba-Nya mencintai kapanpun, pada siapapun.
     Mengenalmu, banyak memberikan perubahan dalam hidupku, terutama dalam kriteria lelaki yang nantinya menjadi pendamping hidupku. Aku sekarang menanti laki-laki lulusan SMP (Soleh, Mapan, Pintar) untuk menjadi jodohku, pembimbingku kelak, suatu saat nanti. Mungkin saja itu kamu yang kudamba *masih saja berharap*. Kalaupun itu bukan kamu, aku yakin dan percaya siapa pun dia, dia adalah pilihan Allah yang terbaik untukku.
    Karena aku mencintaimu bukan hanya bertujuan untuk memilikimu, aku mencintaimu untuk melihatmu bahagia, bersamaku, bersamanya, ataupun yang lainnya dengan ridho Allah SWT.
AMIIIIIIN....!!! (^_^)

Depok, 21 Februari 2011. 11:05 PM

Thursday, February 10, 2011

Alanda Kariza, Ibu dan Bank Century



Kemarin, 9 Februari saya sedang asik tweeting –kebiasaan saya mengisi waktu senggang saat liburan–, sepintas saya melihat tweet dari teman di Twitter saya Kristiono Setyadi yang bertuliskan
Dear @AlandaKariza, behind every storm, there’s always a beautiful sky. Don’t stop right now. Just hold on a little bit longer.
adalah tweet semangat yang biasanya juga sering ia lakukan ke teman-temannya yang lainnya, karena beliau termasuk pribadi yang cukup care di mata saya. Tapi persepsi “biasa” saya berubah setelah saya melihat tweet selanjutnya yang masih menyebut nama Alanda Kariza dan kali ini ini dalam tweet-nya ia menyelipkan sebaris link, meskipun sudah penasaran saya masih tetap tidak tergerak membaca link yang ia tuliskan di sana. Saya melanjutkan keasikan saya nge-tweet sama teman saya Cindy Rizky Beauty dan Vania Ika Aldida. Di sela-sela tweet saya, lagi-lagi Mas Kris –begitu bisa saya memanggil Kristiono Setyadi–  men-tweet kelanjutan kisah dua tweet yang sebelumnya yang berisikan
RT @: Solidaritas Netizen untuk Alanda Kariza >>>
tweet-nya kali itu benar-benar membuat saya penasaran dan bertanya-tanya “Ada apa sih, ko kayanya ekspos banget sama Alanda Kariza?” dan akhirnya membuat saya membuka link itu dan membacanya. Pada saat saya membuka link itu saya menemukan sebuah copy-an blog dari seorang Alanda Kariza yang berjudul Ibu << untuk teman-teman yang membaca tulisan saya ini, coba untuk dibaca blog tersebut. Berikut saya copy beberapa bagian tulisan dari blognya.
Sejak Ibu bekerja di Century, hidup kami tetap biasa-biasa saja. Jabatan Ibu sebagai Kepala Divisi boleh dibilang tinggi, tapi tidak membuat kami bisa hidup dengan berfoya-foya. Orang-orang di kantor Ibu bisa punya mobil mahal, belanja tas bagus, make up mahal… Tidak dengan Ibu. Mobil keluarga kami hanya satu, itupun tidak mewah. Saya sekolah di SMA negeri dan tidak bisa memilih perguruan tinggi swasta untuk meneruskan pendidikan karena biayanya bergantung pada asuransi pendidikan. Ibu tidak membiarkan saya mendaftarkan diri untuk program beasiswa di luar negeri – beliau khawatir tidak bisa menanggung biaya hidup saya di sana. Papa di-PHK segera setelah kasus Century mencuat ke permukaan. Papa tidak bekerja, hanya Ibu yang menjadi “tulang punggung” di keluarga saya. Papa dan saya sifatnya hanya “membantu”.
Saat itu, berat sekali rasanya, Ibu memiliki titel “tersangka” di suatu kasus. Saya tidak bisa mendeskripsikan perasaan saya ketika itu. Saya duduk di Kelas 3 SMA tatkala status Ibu berubah. Ibu jatuh sakit karena tertekan. Tepat satu hari sebelum Ujian Akhir Nasional, Ibu harus diopname, dan saya baru tahu pukul 10 malam karena keluarga saya khawatir hal ini akan mengganggu konsentrasi saya dalam menjalani ujian. Saya tidak lagi bisa memfokuskan pikiran saya terhadap UAN SMA. Pikiran saya hanya Ibu, Ibu, dan Ibu.
………………………………………………………………………………………………………………
………………………………………………………………………………………………………………
Sampai akhirnya, pada tanggal 25 Januari 2011, sehari sebelum saya ujian Introduction to Financial Accounting, saya harus menerima sesuatu yang, sedikit-banyak, menghancurkan mimpi yang telah saya bangun bertahun-tahun, dalam sekejap.
Hari itu seharusnya menjadi hari yang biasa-biasa saja. Ujian hari itu bisa saya kerjakan dengan baik. Saya pulang cepat dari kampus, tidur siang, bangun dan menonton televisi. Ibu pulang malam. Status BBM salah seorang tante berisi: “Deep sorrow, Arga”. (Nama Ibu adalah Arga Tirta Kirana). Saat itu, untuk sejenak, saya tidak mau tahu apa yang terjadi. Hari itu, Ibu dan Papa pergi ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat untuk mendengar pembacaan tuntutan.

Ibu dituntut kurungan 10 tahun penjara dan denda sebesar 10 milyar Rupiah.

Sesak nafas. Yang terasa cuma airmata yang tidak berhenti.
***
Bagaimana menurut teman-teman setelah membaca blog dari Saudari kita Alanda Kariza?
Saya memang tidak terlalu mengikuti perkembangan kasus Bank Century selama ini, tapi membaca blognya sudah cukup membuat saya mengerti apa yang ia dan keluarganya rasakan saat ini terutama Ibu yang menurut saya tak perlu bertemu pun kita sudah bisa mengira beliau adalah orang yang cukup baik. Saya tidak pernah bisa membayangkan bila hal itu terjadi pada Saya dan Ibu Saya. Lalu bagaimana keadilan di Indonesia ini harus menjawabnya? Apa iya Indonesia untuk sekarang dan selamanya harus melulu memberikan ketidakadilan untuk keluarga kecil seperti keluarga Alanda?
Mari kita terus mendoakan yang keadilan yang terbaik untuk keluarga Alanda Kariza. Sosok remaja yang menurut saya juga termasuk remaja yang berprestasi, remaja yang cukup memberikan sumbangsih kepada negara yang mana malah “mungkin” saat ini memberikan ketidakadilan pada dirinya. Seperti yang juga ia tuliskan dalam blognya
Ini negara yang saya dulu percayai, negara yang katanya berlandaskan hukum. Atas nama Indonesia, saya dulu pergi ke forum internasional Global Changemakers. Atas nama Indonesia, saya mengikuti summer course di Montana. Untuk Indonesia, saya memiliki ide dan mengajak teman-teman menyelenggarakan Indonesian Youth Conference 2010. Indonesia yang sama yang membiarkan ketidakadilan menggerogoti penduduknya. Indonesia yang sama yang membiarkan siapapun mengkambinghitamkan orang lain ketika berbuat kesalahan, selama ada uang. Indonesia yang sama yang menghancurkan mimpi-mimpi saya.
Semangat Alanda Kariza, kamu pasti tahu banyak orang yang menginginkan yang terbaik seperti apa yang kamu harapkan.
BE STRONG ALANDA!

Friday, January 21, 2011

ARIEL, Bagaimana dengan BEJO?

Ariel. Vokalis group band ternama yang banyak digandrungi remaja, termasuk juga kaum hawa. Namanya ramai diperbincangkan saat kasus "video"-nya gempar tersebar luas di media. Semua media berlomba-lomba menayangkan berita tentang kasusnya, bahkan dalam pemberitaannya banyak memberikan cuplikan-cuplikan video yang dibicarakan itu. Jadi penikmat media yang tadinya tidak tahu tentang video itu pastinya memiliki rasa penasaran "apa sih videonya?", tidak sedikit yang akhirnya mencari-cari video itu dan menyaksikan isi video itu.

Lalu di kemudian hari ada pemberitaan tentang kasus pencabulan dari anak-anak, sampai remaja yang dikaitkan dengan video Ariel itu, karena ditemukannya video Ariel pada ponsel genggam si pelaku, ada juga yang mengaku karena dia "terangsang" setelah melihat video Ariel itu.

Pertanyaan saya, sebelum ada video Ariel itu, apakah tidak ada video yang sejenisnya? Apakah video yang lain tidak memberikan efek yang sama? Dan apakah media memberikan cuplikan video lain pada tayangannya?

Menurut saya, video Ariel atau apa pun itu tidak akan menimbulkan efek negatif kalau si penyimak video itu membentengi diri untuk tidak melakukan hal yang sama, semua itu kembali ke individunya masing-masing.
Misalnya ada dua orang, si A dan B yang keduanya itu merupakan penggemar Ariel melihat video itu, setelah itu si A memiliki anggapan kalau video itu memang perbuatan yang sangat tidak baik dan dia menjadikan apa yang dia lihat itu adalah sesuatu yang tidak patut dicontoh dan dia hanya menjadikan itu sesuatu yang "cukup tahu aja", berbeda dengan si B, setelah melihat video itu dia melakukan hal-hal yang tidak semestinya, misalnya "pemerkosaan". Kalau kita anggap video itu memberikan pengaruh yang sangat buruk sehingga si B melakukan hal demikian, mengapa hal itu tidak terjadi pada si A? Haruskah kita melulu menyalahkan video itu?

Jujur, sampai detik ini saya tidak pernah melihat video itu --mungkin ada beberapa pembaca yang bilang "bohong" atau apa, itu terserah kalian, tapi memang sampai saat ini saya tidak pernah melihat video itu-- awalnya memang dulu saya sempat penasaran sama video itu, bahkan saya sudah mentransfer video itu ke HP saya via Bluetooth dari teman saya, niatnya ingin ditonton bersama teman-teman saya yang lainnya, hanya sekedar untuk tahu aja, saya risih sekali video itu berada di kotak masuk pesan saya, lalu saya mengatakan saya ga mau kalau video ini ada di HP saya, akhirnya video itu saya kirim ke HP teman saya dan saya delete dari HP saya. Setelah itu saya ngobrol-ngobrol sama teman saya yang lain, saya bilang belum lihat video itu, padahal sudah saya kirim ke HP saya, teman saya itu yang cukup mengenal saya, dia bilang "Kalo lo belum lihat, mending ga usah, soalnya juga lo kan ga pernah lihat video sejenis itu sebelumnya, jangan lah.." akhirnya saya memutuskan untuk tidak melihat video itu, meskipun ada beberapa yang bilang tidak apa-apa.

Cerita saya itu, bukan maksud saya ingin pamer kalau saya tidak melihat video itu. Tapi saya hanya mencontohkan kecil, kalau ada yang membentengi diri untuk tidak menonton itu kenapa harus ada yang membiarkan matanya menyaksikan video itu?

Kembali pada kasus video itu, pagi ini saya melihat di salah satu acara gosip di salah satu stasiun TV yang menayangkan tentang demo besar kasus Ariel. Sebenarnya saya bukan penggemar Ariel (malah kalau Mama saya memuji Ariel karena beliau salah satu penggemar Ariel, saya suka "mengolok-ngolok" kalau Ariel masih kalah sama Pasha vokalis Ungu, band idola saya) di benak saya "aneh" dan timbul pertanyaan, "Apakah kalau pelakunya bukan Ariel, akan dilakukan demo sebesar itu juga kah?". Setahu saya ada pemberitaan tentang pencabulan pada beberapa anak yang dilakukan orang yang sama, saya tidak pernah melihat ada pemberitaan demo untuk si terdakwa. Lalu apakah hal yang terjadi ini semata-mata hanya karena satu nama? ARIEL? Bagaimana kalau namanya diganti dengan BEJO?

Sunday, December 12, 2010

Entah

Entah

sebentar malam, jangan kau pergi
duduk sebentar temani gundahku
tentangnya...
yang lama tak kujumpa
kutemui di tengah keramaian
ketika matahari lekas hentikan pendarnya
dia...
senyumnya pekat di mimpiku
suaranya mengiang
menjadikannya kisah singkat
yang sulit kulebur untuk sekedar jadi kenangan
malam...
waktumu tak banyak lagi temani kubercerita
tentang kisah ini
tentang rasa,
yang tak tahu lagi ke mana kan berarah
pergilah malam...
biar kumengadu saja pada embun esok
entah apa lagi yang kan kuadu
mungkin hanya sebongkah tangis
pereda rindu

Silvia Ratna Juwita
Minggu, 12 Desember 2010, 21:42

Wednesday, December 1, 2010

Selamat Hari Ulang Tahun yang ke-15

Mengenal sesosok pribadi yang istimewa, indahnya ia mengisahkan kisah hidup bersama belahan jiwanya, aku semakin mengenalnya dan kekasih hatinya, mengenal kebaikan hati mereka hingga aku menyayangi mereka, dua pribadi yang bijak dan memotivasi hidupku, kuperhatikan setiap langkahnya dalam kata, kebersamaan hidup dalam suka dan duka, kubaca perjalanan album kenangan mereka, tentang cinta yang indah, cinta yang di mataku sesungguhnya cinta, dua kepribadian yang menyatu dan saling melengkapi.

Lima belas tahun sudah mereka bersama, dengan kesempurnaan cinta mereka. Hanya mampu kuselipkan doa-doa terbaik untuk mereka, untuk melengkapi kebahagiaan mereka seutuhnya. Semoga Allah menjadikan doa harapanku dan mereka dalam bentuk kenyataan.

Foto Pernikahan Ibu Elvi Susanti dan Bapak Budi Putra.

SELAMAT HARI ULANG TAHUN PERNIKAHAN yang ke lima belas Ibu Elvi Susanti dan Bapak Budi Putra.
Semoga kebahagian kan selalu ada untukmu, salam sayang selalu untuk Ibu dan Bapak dari Silvi.

Tuesday, November 16, 2010

KUCING

Di sini aku tidak menulis puisi dangan judul kucing. Aku hanya berbagi cerita tentang kucing yang selama kurang lebih 13 atau 14 tahun. Kucing pertamaku itu namanya Rambo, berwarna belang, dia kucing berjenis kelamin perempuan. Aku ingin cerita tentang beberapa kucing yang masih sangat teringat jelas di benakku.

1) Rambo (warna belang)
Kucing pertama yang aku punya, dia itu titipan dari tetangga depan rumahku yang pindah rumah. Mereka tidak membawanya, entah apa alasannya. Mungkin karena mereka pindah jauh. Kebiasaan dia, dia itu paling suka sama Ubi rebus --heran aku juga-- kalau ada tukang bajigur dia suka mengeong bahkan sampai menginjak-injak kakiku kalau aku lagi tidur.

2) Garong (ada dua, warna garong)
Mereka itu suka manjat pohon jambu biji di depan rumahku sampai ke atap rumah, tapi yang satu bisa turun yang satu lagi ga bisa, akhirnya dia ngejerit meong-meong minta turun, dan aku yang akhirnya manjat ke pohon ngambil dia bahkan pernah manjat ke atap rumah. (~__~")

3) Emeng (warna putih ada totol-totol putihnya)
Dia itu paling suka bangunin aku sekitar jam 5.10 - 5.15 pagi. Dia suka naik ke tempat tidur terus muka aku dijilat-jilatin, hidung digigit sama dia sampe aku bangun.

4) Ganteng (warna kuning buntutnya itu bengkok jadi suka diisengin, misalnya dicantelin kantong plastik)
Kebiasaan dia kalau aku berangkat sekolah dia itu suka nganterin aku sampe naik angkot, padahal kasian ngeliat dia cape lari-lari nemenin aku, suka aku gendong kembaliin ke rumah, tapi tetep aku diikutin. Makanya kalau aku berangkat sekolah suka lari-lari, kasian kalau dia ngejar aku. Dia juga suka begitu sama Kakaku, kalau kaka keluar naik motor juga suka dikejar sama dia sampe depan gang (aduuh kangen). Terus kalau aku pulang biasanya dia suka ada di depan warung Bu Selam namanya. Nanti dari warung itu aku beli gorengan (sisa uang jajan) terus aku gendong dia sampe rumah dia sambil makan gorengannya itu. Kalau kakaku pulang juga kadang-kadang dia ada di depan gang terus ngejar sampe rumah. Nangis nulisnya inget si Ganteng. Aku namain Ganteng juga aku suka lihat mukanya, Ganteng aja kesannya. Gagah lah. Aku paling sayang sama dia, soalnya kalau aku lagi nangis dia suka tiba-tiba duduk di paha aku, ngegelesor lah sampe aku mainin perut dia dan ga nangis lagi.

5) Item
Kucingku yang satu ini paling narsis. Pertama kalinya aku punya HP kamera, aku lagi foto-foto di teras rumah. Dia tiba-tiba suka ada di samping, pokonya kalau aku lagi narsis dia tuh suka nongol. Pernah waktu dia tidur aku foto, dia langsung melek dan kadang suka ada gayanya aja. Lucu deh pokonya.

Itu salah satu gaya dia baru bangun tidur. Hahahaha


Tapi sayang, kepindahanku ke Depok memaksa aku pergi dari mereka, aku ga boleh melihara kucing lagi. (T.T)

Monday, October 18, 2010

Mata

Mata itu, berbicara

Mata itu, menggoda

Mata itu, tak banyak yang mampu mengartikan tatapannya

Mata, banyak beri kisah yang tak pernah terbayang di benakmu

Seperti cinta

yang bisa berawal dari mata turun ke hati

meresap ke relung jiwa

tumbuh, menggelora batin

hati-hati menatap

hati-hati bercinta

Karena kamu tak pernah tahu

berapa banyak hati terluka

karena kau salah menatap dan bercinta



Silvia Ratna Juwita

Depok, 21 Agustus 2010

Wednesday, September 15, 2010

Terpaksa Menyendiri

Terpaksa Menyendiri

temanku matahari berhenti menari
di balik sela-sela awan dia berlari
langit teduh pun memayungi
pepohonan melambai; angin membelai
sendu sepertinya senja berganti
sendiri...
kutunggu ia di esok hari
tapi yang datang hanya pelangi
tanpa hujan mengawali
yang ada malah mengakhiri
meski belum jadi teman sejati
aku terpaksa menyendiri

Silvia Ratna Juwita
Depok, 14 September 2010

Thursday, September 2, 2010

Puisi Untuk Panggi yang diwisuda :)

Ibarat tangga..

Kini telah terlewati seribu anak tangga

Kau lalui anak tangga di mana kau dapati riang, pedih, suka, duka yang silih berganti

Kini sudah kau berpijak

Pijakan yang dulu mimpi, kau genggam dalam nyata

Selamat telah tergapainya satu di antara seribu mimpimu

Panggi Libersa Jasri Akadol,S.Kom.


*****
Selamat yah Kang sudah diwisuda :)


Depok, 2 September 2010
Silvia Ratna Juwita

Saturday, August 28, 2010

Ketika Bulan Terbagi



Ketika Bulan Terbagi

Aku pemimpi
Sendiri kumerebah di kamar
Mengosongi serpihan pikiran yang kudapat di balik pintu
Harmoni angin syahdu, melantunkan melodiku
Kesadaran mengambang di langit-langit
Mata lelah terjaga, dan mimpi merajai
Terdengar ketukan di balik daun jendela
Melangkahkan kesadaranku
Ternyata bulan iseng menggodaku
Menyapaku, mengajakku menikmatinya
Yang utuh sendiri
Sinarnya lembut membelai hatiku
Malam yang sempurna
Bulan menjadi milikku sendiri
Sembilan puluh malam, sembilan puluh mimpi
Bulan utuh menjadi kekasihku
Malam sembilan puluh satu
Kudatangi kejora
Bulan dan kejora menari di tengah langit malam
Aku duduk terdiam, hanya mampu memandang
Hanya mampu menikmati, pancaran sinar kebahagiaan mereka
Dan aku kembali menjadi pemimpi


Silvia Ratna Juwita
Depok, 28 Agustus 2010

Saturday, August 14, 2010

Untuk sahabatku Ian, Ety, Anty :)

Untuk sahabatku Ian, Ety, Anty :)

****
Karang
Silvia Ratna Juwita

Menyemai langkah ke pesisir pantai
Melihat deburan air bergelumat hantam karang
Angin tak kalah ramai merobohkan
Dan karang tetap menjadi karang
Dia tetap berdiri meski ikan tak lagi ingin berlindung
Rinai hujan gemercikan ingatan
Mengenang suka dalam duka
Mencairkan kasih dalam kehangatan

=####=
Begitu pula kasih kita sahabat
Yang akan kuat seperti karang
Tetap bersatu, meski dunia menggoda
****

persahabatan tak selamanya manis, dari masa lalu aku belajar, di hidup ini kita tak sendiri, banyak orang2 di sekitar kita. Ada yg suka & ad yg ga. Aku jg belajar bgmn hrs bersikap, terimakasih untuk semuanya sahabat, utk semua kasih sayangnya, kesabarannya, kepercayaannya, semuanya :)
Suatu saat nanti pasti akan ada cobaan lg, tp semoga apa2 yg tlah kita alami, tak lg bsa meruntuhkan apa2 yg ada :)
Vi sayang kalian ^__^
have a nice day =)

Thursday, August 12, 2010

Maafin Vi :'(

Sudah 4 semester aku kuliah, sudah banyak mengenal teman baru, lingkungan baru, semua yang belum pernah aku temui sebelumnya. Kemarin tanggal 22 Juli 2010 aku dan teman sekelasku pergi ke Anyer mengisi waktu liburan, saat itu aku punya teman yang cukup dekat di hatiku, aku menganggap mereka lebih dari teman-temanku yang lainnya. Saat di bus, kami berenam masih bersama, duduk berdekatan, bercanda bersama, tertawa bersama.
Malam pertama tiba di Anyer kami sekelas terbagi menjadi tiga kelompok, kelompok pertama asik bermain "poker", kelompok kedua teman-teman yang cewe asik ngumpul meriung di atas saung pinggir pantai, dan kelompok terakhir hanya tiga orang salah satunya aku, aku dan kedua temanku yang lain asik main "ngerjain". Malam itu meski terbagi tiga kelompok kami masih merasa satu, aku juga masih merasa satu dengan lima teman dekatku yang lain.
Hari kedua di Anyer, jadwal kami adalah pergi ke Pantai Carita, sebelum ke Carita aku masih sempat main air di samping villa yang kami tempati, tapi sekembalinya aku ke kamar, entah kenapa perubahan sikap kelima teman dekatku yang aku rasa cukup sinis, di situ perasaanku mulai ga enak, sedih melihat perubahan sikap mereka yang aku sendiri ga tau apa alasannya, bahkan waktu mau ke Carita teman duduk sebangku di bus pun jadi berubah posisi, aku melihat mimik wajah mereka yang sepertinya sangat benci sama aku dan yang akhirnya duduk di sampingku pun meski masih tersenyum lebar dan aku foto bareng tapi tetap ada perbedaan yang aku rasakan, tapi aku mencoba untuk postive thinking dari semua kejadian itu.
Setibanya di Carita, kami ada jadwal makan siang sebelum mulai main air. Satu bungkus nasi itu porsinya untuk tiga orang, kami berenam terbagi menjadi dua saat makan pun aku melihat temanku begitu sinisnya memberi bungkusan nasi dan sayurnya, selera makanku rusak saat itu juga, aku cuma bisa makan sedikit, rasanya ingin sekali nangis saat itu, tapi aku coba tahan, aku ga mau merusak suasana.
Selesai makan, selesai solat dzuhur kami langsung main banana boat, satu banana bertujuh, empat dari kami berenam, tida lainnya dari teman sekelasku yang lain. Saat-saat main air itu aku merasa keakraban kami memulih, kami merasa baik kembali, apalagi saat kami main ban, aku bertiga dengan teman dekatku. Terasa sekali kebersamaannya, aku pikir mulai saat itu mungkin semua sudah kembali, tapi ternyata setelah semua permainan selesai sikap dingin mereka kembali lagi. Entahlah rasanya aku ingin cepat pulang ke rumah.
Malam terkahir di vila kami ada acara api unggun, games, bakar jagung. Saat bakar jagung aku sudah sangat tidak nyaman dengan kondisinya, dengan acaranya, sikap mereka, dan badanku mulai terasa sangat panas. Aku memutuskan masuk ke kamar sendiri, aku tidur membiarkan jagungku terbakar sendiri. Tak lama kemudian salah satu temanku juga masuk ke kamar, dia tidur di sampingku, dia bilang badannya lagi ga enak. Aku merasa saat itu hanya temanku itu saja yang tidak berubah denganku.
Tiba waktu pulang, aku merasa ingin cepat sampai rumah.
Setibanya di rumah badanku drop, hari minggu aku masih sempat menghadiri workshop bersama temanku, tapi setelah itu rasanya aku sudah tidak punya tenaga lagi. Apalagi ketika melihat status updates temanku di salah satu jejaring sosial yang ingin memutuskan pertemanan dengan teman yang merugikan dan membuat imagenya jelek, saat itu juga aku merasa kata-kata itu buatku. Aku cuma bisa menangis, menahan sakit jasmani dan batinku, aku berusaha mengingat-ingat apa kesalahan sesungguhnya yang telah aku perbuat, kesalahan fatal apa yang aku lupakan. Dua minggu berlalu, kondisi itu juga tak berubah, setiap harinya aku cuma bisa pasrah dan berdoa agar semua terbuka sejelas-jelasnya apa yang telah terjadi. Aku merasa malu dan hina dengan keadaanku sendiri, tapi aku mencoba ikhlas dengan semua yang ada.
Suatu hari aku tak pernah menyangka, temanku yang buat status itu sms aku tentang jarkom, akhirnya aku tak ingin masalah di antara kami larut terlalu lama, kami smsan saling menyalahkan diri sendiri dan meminta maaf. Dan akhirnya aku tau kalau ada yang memberikan omongan yang ga enak tentang aku yang membuat aku kecewa dan yang menyampaikannya adalah salah satu teman dekat kami juga.
Setelah semua masalah terjelaskan sejelas-jelasnya persahabatan mereka berlima merenggang, aku bertiga dengan temanku, dan temanku yang memberikan berita itu dan dua yang lainnya menjalani hidupnya masing-masing.
Sebelumnya aku merasa sangat nyaman dengan keadaan itu, tapi hari ini aku melihat status updates temanku di facebook

:: ini gw apa ada nya !

ga ngerti knpa tiba" kalian brubah ?!
ada yg slah di gw ?
kl mmng ia, mnding di omongin .
...ga hrus ngediemin gw ky gni !

******

Ya Allah ya Tuhanku, aku ga tau lagi, aku merasa salah banget dengan semua yang terjadi saat ini mungkin memang semua yang terjadi saat ini semuanya adalah salahku, mungkin memang seharusnya aku yang tak pernah hadir di antara persahabatan mereka. Sepertinya lebih baik aku yang mundur, aku ga mau persahabatan mereka merenggang hanya karena kehadiranku yang tidak penting. Untuk Ety, Anty maaf kalau Vi membuat semua keadaannya jadi seperti ini, terimakasih untuk semua yang telah kalian berikan, untuk Ian, terimakasih waktu itu sudah menemaniku mengclearkan semua masalahnya, tapi untuk saat ini Vi sadar, Vi cuma bisa buat masalah aja di antara kalian. Persahabatan kalian sayang kalau harus berakhir begini. Terimakasih banyak.