Sunday, September 4, 2016

Allah Selalu Punya Cara dan Alasan Terbaik


Tiba-tiba ingat quote "cinta di umur 25 tahun sudah bukanlah cinta yang diumbar-umbar", kurang lebih begitu lah isinya.

Setelah pertemuan dengan beberapa orang yang silih berganti memberikan pelajaran terbaik dari setiap perpisahannya, saya akhirnya paham cinta yang sejatinya untuk kita adalah dia yang bertahan dan selalu ada untuk kita pada akhirnya.

Dengan amat menyesal saya akui saya pernah marah sama Allah di dalam doa saya (naudzubillahimindzalik semoga tidak akan pernah terulang kembali) ketika saya dipisahkan dengan seseorang yang pernah saya anggap sempurna. Baik tutur kata (yang saya hadapi selama ini), baik tingkah laku, baik rupa, dan baik pula kecerdasannya.

Sekitar 2 sampai 3 tahun saya menyendiri, mengenal orang lain yang juga baik namun ternyata dia juga hanya datang lalu pergi. Lantas, selama saya menyendiri banyak yang saya pelajari dan memberikan pelajaran untuk diri saya.

Teman baik yang sudah menjalani hubungan dengan kekasihnya selama 7 tahun ternyata menikah dengan orang yang bukan kekasihnya, itu pun tanpa proses pacaran seperti pacaran pada umumnya. Ada lagi kawan yang sangat baik hatinya, dia juga pernah merasa sulit untuk membuka hati dalam waktu yang cukup lama ternyata tinggal hitungan hari akan melangsungkan pernikahan.

Dari beberapa kisah itu saya belajar kalau Allah menghadirkan jodoh di waktu yang tepat menurut-Nya. Dan di situ pula waktu penantian itu digunakan untuk memperbaiki diri sebaik-baiknya.

Di saat saya sudah cukup lama berkutat dengan kebingungan dan meraba apa alasan Allah memisahkan saya dengan seseorang yang saya anggap sempurna. Allah akhirnya membuka semua yang mungkin hati dan akal logika saya tak akan mampu untuk mengetahui alasannya (tidak bisa disebutkan, intinya semua yang saya anggap sempurna adalah permukaan luar) di awal perpisahan itu.

Setelah saya tahu kebenarannya, di situ saya bersujud mohon ampun dan sangat berterima kasih kepada Allah, meskipun rencana serius itu gagal, itu adalah jalan terbaik dan saya akui sangat baik untuk saya.

Singkat cerita, dari setiap kejadian saya belajar kalau Allah ternyata menghadirkan seseorang untuk memberikan hikmahnya tersendiri. Dia bisa saja tiba-tiba mendatangkan orang lain lagi di saat kekosongan melanda.

Dia datangkan yang jauh menjadi dekat, Dia datangkan kemungkinan pada kemustahilan, Dia datangkan rencana pada setiap kepasrahan. Dan saya ingin jadi manusia yang bisa belajar, meski Allah nantinya akan hadirkan seseorang yang baru tapi di situ saya membuat keputusan untuk tidak menjatuhkan hati sepenuhnya kepada seseorang yang datang tanpa mengkhitbah. Bukalah hati untuk orang lain, karena kemungkinan itu selalu ada. Jangan menutup satu pintu karena kita tidak pernah tahu kapan Dia datangkan jodoh terbaik untuk kita.

Selama menunggu waktu yang tepat dari Allah, ingatlah kita tidak pernah merasa kosong karena Allah selalu bersama kita. Perbaiki diri, pantaskan diri karena:

"Laki-laki yang baik diperuntukkan untuk wanita baik; begitu pun wanita baik-baik hanya untuk laki-laki baik."

Bila kita tidak dibersamakan dengan seseorang berarti seseorang itu tidak baik untuk kita atau mungkin kita yang tidak cukup baik untuk mendampingi seseorang itu.

Bersyukur dan alhamdulillah bila selama ini bisa menjaga diri dari kemaksiatan pacaran yang menggunakan nafsu semata (meskipun tidak sesempurna yang seharusnya) yang pastinya mengundang zina, bagi yang belum maka jauhkan secepatnya. Biar tunggu saja Allah yang pastikan dengan siapa kita bersanding. 😇

Depok, 4 September 2016; 20.35 WIB.
Silvia Ratna Juwita

Thursday, August 27, 2015

Aku Mencintaimu dengan Kepasrahan

Air mata terlalu mudah bergulir di pipi bila mengingat ketakutanku menikmati setiap canda dan tawa yang kualami sendiri semenjak mengenalmu tanpa tatapan. Bukan tak mempercayai dirimu, tapi aku tak yakin diriku mampu membuatmu merasakan apa yang kurasakan. Dalam foto dirimu aku yakin semua orang tahu, senyum lebarmu adalah pancaran kebaikan hatimu. Tapi aku tetap tak yakin bisa menikmati kebaikan yang kumau darimu untukku sendiri. Senyummu hadir saat aku sedang larut menikmati cinta yang jatuh dan untuk yang kesekian kalinya hatiku terjatuh retak. Namun, ragamu saja tak pernah kutahu wujudnya hingga akhirnya kuhadirkan perantara dirimu menghadap Sang Pencipta dengan harapan agar selalu ingat akan aku.
Dia menciptakan waktu untuk membiarkan mataku menyaksikan senyum di balik kusutnya pikiranmu. Berbagi sekilas tentang kesibukanmu, aku lupa kalau hatiku pernah retak, tetapi aku ingat bahwa hatimu pun sedang terpaut pada merpati. Hatimu masih terbang bersama merpati dan aku sadar aku hanya hati retak yang mulai mengobati lukanya sendiri dengan canda bersama tawamu.
Waktu akan selalu menjadi milik-Nya. Terpisah dari hadapanmu adalah takdir yang harus kujalani, Dia hanya sedang memberiku pelajaran bahwa hati yang retak masih bisa terobati dengan hati yang baru. Hanya saja aku tak pernah tahu ketetapan-Nya tentang aku dan dirimu, yang aku tahu hanya bila sekali lagi hatiku terjatuh entah apa yang akan terjadi.
Maka itu, kusimpan semua perasaanku sendiri, biar saja hanya kubagi dengan-Nya tanpa perlu mata hatimu mengetahui. Karena bila senyummu masih mengembang, jangan salahkan aku yang akan menaruh harapan dari hatimu. Kali ini Dia yang kuberi kuasa seutuhnya untuk mengatur setiap aliran hidupku, mulai dari perasaanku hingga pertemuan denganmu selanjutnya. Aku cukup tahu diri pada dunia mana kau berpijak. Dan tak akan setitik usaha yang kulakukan untuk meniti mimpi hidup bersamamu, karena aku paham aku bukan malaikat seperti mereka yang ada di sekitarmu.
Salam untukmu, dariku yang memasrahkan semua hanya kepada-Nya. Tunggu kiriman hati yang pernah terluka dan penuh harapan dariku bila memang Dia mengalamatkannya padamu. Karena bila Dia menakdirkan dirimu untukku tak akan pernah pergi meskipun aku berlari menjauh darimu.
(Silvia Ratna Juwita, 27 Agustus 2015; 00.42 wib)

Tuesday, November 11, 2014

Sedikit Cerita di Gunung Papandayan

<a href="http://uin-community.us/wp-content/uploads/2014/11/PB090671.jpg"><img src="http://uin-community.us/wp-content/uploads/2014/11/PB090671-300x168.jpg" alt="OLYMPUS DIGITAL CAMERA" width="300" height="168" class="alignnone size-medium wp-image-9654" /></a>

Naik gunung? Duh ga pernah kebayang di otak gue buat naik gunung mana pun, meskipun gue udah nonton film <em>5cm. Tapi pas diajak temen, anak Fisika FST semester 7, buat naik Gunung Papandayan, dalam hati gue kaya menggebu pengen tapi keinginan gue itu masih tertahan sama yang namanya mikir, jadi ada kali sekitar 2 minggu lebih mungkin sebulan malah setelah pengajakan itu gue sampai ke tahap 'mau' dan ngajak temen lain buat ikutan.

Semakin mendekati hari H, makin serius gue, pinjem tas, sleeping bag, matras, apapun lah yang gue ga punya sama temen gue anak FEB semester 9 sepertinya, ya kayanya sih ga punya semua, maklum pertama kali naik gunung.

Beruntungnya, meskipun udah 2 tahun lulus, masih punya banyak teman di UIN Jakarta ini. Kalau ke kampus masih bisa lah dianggap anak semester 5. Ulalalala ~

Hari H, 7 November 2014. Gue berangkat bersama rombongan dari pool Primajasa di daerah mana namanya ya, pokoknya ke arah Pamulang setelah Tiptop itu. Yang awalnya niat berangkat setelah maghrib, jadi berangkat jam 8 malam lewat lah ya. Terus sampai ke Alun-Alun Garut itu sekitar jam 2 pagi, oh gue ga nyangka selama itu perjalanan gue, mana batuk batuk mulu, kurang tidur gegara 3 hari sebelumnya ngurusin seminar jurusan sampai larut malam juga.

Sampai Alun-Alun kita nungguin mobil yang ngangkut tas rombongan beserta orang orangnya, itu rombongan jadi terkesan kaya sekampung mau pindah kampung, banyak banget ada 45 orang mungkin.

Perjalanan sepertinya direstui Yang Maha Kuasa, buktinya kita berhenti sebentar di Pom Bensin, bisa buat solat Isya dulu baru lanjut ke kaki gunung. Sampai ke pos kaki Gunung Papandayan, kita istirahat, subuh, makan, tanpa tidur di sana. Ga paham lagi sih, ngomong aja keluar asap ngebul dari mulut.

Perjalanan dimulai sekitar jam 5.30an lah ya. 10 meter kali baru mulai jalan, gue merasa ditipu sama temen gue yang ngajak, dia bilang jalannya gampang, landai, de el el sebagainya. Salah gue juga sih terlalu percaya dan kemakan film 5cm, yang kayanya naik gunung tuh gampang banget. Di otak gue mikir "bisa ga sih gue muter arah balik lagi ke rumah" bahahaha fine, cemen banget emang gue.

Ngas ngos ngas ngos... Istirahat berkali kali, yang bikin gue semangat pas gue istirahat itu difoto, dan hasil fotonya itu, bagus sekali. Gue kaya ada di background bohongan kaya sinetron kolosal gitu. Banyak asap asap, tebing, keren pokoknya. Yaudah semangat lah naik, meskipun endingnya ngas ngos lagi hahaha maklum lah pemula.

Yah mungkin sekitar 2,5 jam lah ya kita sampai di Pondok Saladah, tempat nge-camp gitu. Istirahat bentar, eh lama sih lumayan. Bangun tenda, tepatnya ngelihatin anak laki bangun tenda, masak, kalau masak beneran gue masak kok. Beruntunglah gue masih punya kegunaan buat temen-temen. Hihihi

Ngisi perut selesai, temen gue keren persiapannya nyiapin flying sit, kaya ayunan gitu lah, ada kali 2 jam gue tidur berayun di situ. Mantap, bangun bangun menggigil, padahal itu jam 1 siang. Tergopoh-gopoh gue ke tenda, ngambil jaket super tebelnya gue. Terus wudhu, ya Allah, rasanya lo ga perlu ikut yang namanya Ice bucket challange. Berasa banget disiram air esnya. Tapi yang super ketika gue solat tanpa jaket, cuma pakai mukenah tipis yang gue bawa, gue berasa banget hangat. Makanya ga gue lepas lepas tuh mukenah.

Berhubung rombongan itu super duper banyak, gue memisahkan diri bersama kelima teman gue dari kampus gue yang sekarang, UNJ. Karena klik aja, berasa adek kaka sepupuan sodaraan kaya lagi main bareng. 3 cewe pemula dan 3 cowo yang alhamdulillah sudah beberapa kali mendaki, mungkin banyak kali, tapi 3 cowo ini tetap low profile.
<a href="http://uin-community.us/wp-content/uploads/2014/11/PhotoGrid_1415511793266.jpg"><img src="http://uin-community.us/wp-content/uploads/2014/11/PhotoGrid_1415511793266-300x168.jpg" alt="PhotoGrid_1415511793266" width="300" height="168" class="alignnone size-medium wp-image-9656" /></a>
Sedikit lah gue kenalin:
👩 Pimpim : temen sekelas di UNJ yang ngebawa 4 temen yang super duper
👩 Dwita : ibu konsumsi dan penyedia counterpain
👦 Ian : bapak motivator perjalanan yang paling sabar nungguin cewe-cewe pemula
👦 Didie : laki-laki yang mengajarkan bagaimana caranya bermonolog suatu saat nanti di depan anak-anak
👦 Rio : orang yang ga kenal lelah, yang sanggup gitu naik puncak 2 kali dalam waktu yang bersamaan, pertama ngecek jalan, kedua bareng sama kita-kita

Sekian buat perkenalan temen temen gue yang super. Lanjut ke cerita yuk. Udah hayuk aja.

Nah abis ashar, lanjut lah temen gue si Rio ngajakin ke Tegal Alun. See, gue cuma mikir Tegal Alun itu kaya tempat apa, bukan puncak dari Gunung Papandayan. Nikmatin ajalah ya jalan jalannya, ngelewatin Hutan Mati yang keren banget, sulit gue ungkapkan kekerenan dari setiap langkah gue menikmati Hutan Mati yang bernuansa putih di pandangan gue. Sampai Hutan Mati, perjalanan belum berakhir, gue masih harus ngas ngos lagi menuju Tegal Alun. Lagi lagi temen gue PHP, bilangnya cuma 15 menit, tapi apaaah!! Hahaha perjalanan mulai bener bener runyem, cuma bawa 1 botol minum kecil untuk berenam, air tinggal 1/4. Eh ngelihat ada selang mata air yang kebuka, akhirnya kita semua minum dari situ. Awalnya gue ga yakin untuk minum, masa ga dimasak sih, tapi gue beranikan diri buat minum, it's amazing, ga ada rasa, yang ada segar banget, kaya minum air dingin. Airnya pun jernih banget. Lepaslah dahaga kita minum itu. Tapi perjalanan masih dilanjutkan. Ya, untuk sampai Tegal Alun mesti manjat tebing tanah pakai tali yang gue ga nyangka gue bisa lakuinnya. Huahaha gue keren :)))

Sampai lah di Tegal Alun, ternyata oh ternyata itu puncaknya, bukan cuma tempat main yang dimampirin aja. (Meskipun ada yang bilang masih ada lagi puncaknya, tapi kebanyakan menganggap Tegal Alun adalah puncaknya) tidurlah gue sama teman teman di padang edelweis itu. Ga mikir lagi mau ngapain, tapi ketiga cowo masih penasaran, mereka mencoba cari puncaknya lagi, meskipun ga ketemu. Alhamdulillah sih, gue ga kepikiran kalau ketemu kaya gimana lagi perjuangan gue.

Akhirnya kita turun dari Tegal Alun menuju Pondok Saladah lagi, kita mencoba jalan baru yang kayanya ada beberapa orang lewat sana. Turun turun turun dan turun, hap.. Kaki gue keseleo yang kanan, jatuh lumayan nyeeeerii. Baiknya temen-temen gue pada sabar. Setelah lumayan lama istirahat, perjalanan dilanjutkan dengan ritme gue yang keseleo. Ternyata jalanan baru itu jalannya parah, terjal, dan diiringi dengan jurang. Gelap pula. Mana yang bawa senter cuma 3. Dag dig dug sih, apalgi pas nemuin jalan bercabang, tapi selama kita masih menemukan pita, kita berarti ga nyasar. Nyerosot sana nyerosot sini, di dalam hutan yang dingin dan gelap tapi gerah. Gue yakin sebenernya ga cuma hati gue yang was was, tapi kita semua mencoba stay cool. Hati agak tenang ketika ngedenger suara banyak orang meskipun dari kejauhan. Akhirnya jam 7 malam sampai tenda, kita semua ngerebahin badan, tapi gue yakin semua pada lapar, lanjutlah masak memasak.

Makan malam selesai dan kita bersih bersih. Solat dan lanjut tidur. Berencana lihat sunrise besoknya tapi ya tapi cuma rencana. Tengah malam gue kebangun gegara kedinginan, kaya badan gue diremet remet. Kata temen gue ada anak laki rombongan yang masuk ke tenda karena ada teman satu tenda gue kedinginan, herannya gue ga sadar sama sekali. Mungkin gue sendiri pingsan karena kedinginan kali ya :( hahahha

Sekian lah cerita gue soal naik gunung. Banyak banget pelajaran yang gue ambil dari naik gunung itu. Oh ada satu hal yang gue percaya, di gunung itu semua kepribadian orang terlihat. Kita bakal mengerti apa yang dimaksud dengan "Don't judge a book by its cover." Mau tau apa maksudnya? Coba rasain sendiri, maka naik gunung lah :)

Salam
Dari kaki kaki yang masih pegel

Silvia Ratna Juwita
11 November 2014; 9.18 WIB,

Sunday, May 25, 2014

Saya Masih Mengaku Manusia

Saya bukan yang serba benar tapi mencintai kebenaran. Mungkin saya angkuh tapi saya tidak berpura-pura. Saya tersenyum melihat mereka berdecak kagum pada hatinya yang menikmati penipuan dalam kata. Saya tak sepintar dugaan mereka, tapi saya tak sebodoh bayangan mereka. Saya berhati maka saya merasa, bila benar tidak baik maka saya marah, namun saya juga pernah salah. Saya memaafkan tapi tidak sekarang. Saya dibodohi, biarlah. Saya sabar, tapi tak sekuat nabi. Itulah mengapa saya masih mengaku manusia.


Depok, 25 Mei 2014; 17.00 WIB
Silvia Ratna Juwita

Monday, April 14, 2014

Karena Aku Bukan Bidadari

Aku terbawa masuk ke duniamu
Dalam petikan gitar di genggamanmu
Aku nikmati senyuman
Saat kau nyanyikan lagu cinta untuk kekasihmu

Kulupakan luka hati dengan berbagi kisah denganmu
Dan aku mencandu untuk selalu melihat bola matamu

Aku diam, aku menunggu
Aku menikmati saat aku duduk berdua denganmu
Aku berharap, aku berbisik
Aku ingin cinta yang seperti dirimu

Aku terpukau tak menyangka
Ketika kau tahu saat aku menuliskan bayang dirimu
Yang membuaiku dengan canda namun kuanggap nyata
Menikmati romansa kata indah di singkatnya waktu
Saat kau tak lagi bersama kekasihmu
Dan aku merasa wangi surga begitu dekat

Namun semua berakhir
Saat tak sanggup lagi kumenahan cemburu
Melihat kau memuja bidadari yang pandai menari
Mereka begitu indah
Mereka begitu sempurna

Aku pergi meninggalkan mimpi dengan tangis
Karena aku sadar
Aku bukanlah bidadari

Rindu padamu pun percuma
Karena tak ada selain bidadari
Mampu menari di pikiranmu

Aku pergi tanpa sayap
Karena memang aku tak bersayap
Namun pasti akan aku gapai satu mimpi yang beterbangan
Meskipun aku bukan bidadari



Depok 14 April 2014; 16.52
Silvia Ratna Juwita

Saturday, September 21, 2013

Luka Mencintaimu

Bila saja kutahu mencintaimu adalah pedih
Akan kulepas semua perasaan
Di mana kau pernah memintaku untuk menjaganya
Yang kukira itu bukan canda

Berkali kau menyakiti hati
Yang semakin hari makin lekat mencintaimu
Kau menepikanku dengan memuji kecantikan
Setiap wanita yang kau lihat, bahkan ia sahabatku sendiri

Kau hancurkan cahaya kehidupanku
Ketika kau menyakiti hatiku
Yang kau sendiri telah paham
Betapa dalamnya perasaan meskipun telah terpisah jarak
Aku mencintai setiap mimpi
Di mana aku bisa memeluk kebahagiaan tulus bersamamu
Dan itu tak akan menjadi nyata

Katakanlah bila memang kau ingin kan aku pergi

Bukan dengan luka saat kau mengagumi wanita lain
Di hadapanku


Depok, 21 September 2013; 9.11 WIB
Silvia Ratna Juwita

Friday, August 23, 2013

Diam, Ternyata Aku Menangis

Diam aku harap bisa
Dengan diam aku ingin tahu
Dengan diam aku pinta sadar
Seberapa besar aku menahan ego untuk tetap melupakanmu
Di kala cinta terlalu cepat menggerogoti hati
Yang memancarkan ingatan tentang senyummu

Dalam diam kuharap bersama doa
Kau akan hadir bersama sebait kabar
Tapi doa tidak dijamah Tuhan
Aku bermimpi bersama tangis
Memandang layar yang tak kunjung memunculkan dua kata namamu

Ya...
Aku paham
Ketidakberartiannya diri ini
Ketidak diingatnya nama ini di sejenak pikiranmu
Meski kau selalu tahu seberapa besar rasa yang tercipta karena candamu

Aku menangis karena ulahku
Membiarkan kebodohan menyelimuti nafsu hati untuk memilih tetap mencintaimu dengan segala resiko
Dan kini aku bermandikan duka resiko yang kutanam sendiri


Depok, 23 Agustus 2013; 16.59 WIB
Silvia Ratna Juwita

Wednesday, August 21, 2013

Rasa Ini

Aku mengagumi sosokmu
Bukan karena manisnya senyummu
Bukan karena renyahnya suaramu

Aku menikmati setiap detak degub jantung dari setiap kata dari bibirmu
Dalam bingkai cerita, pujian atau sekedar canda

Lenggok tubuh dan tarian mata terpampang indah
Meski kutahu itu bukan milikku
Sekedar canda yang biasa kau bagikan pada setiap yang di hadapanmu

Ketika hati tak bisa memilih
Pergi pun belum mampu terlaksana
Karena langkah tak ingin jauh pergi
Dan biarkan hati terbodohi harap

Perasaan yang terkuak
Tak terbendung hingga kata mengalir
Dari kejujuran
Dan perjuangan hanya mampu dalam doa
Menunggu waktu yang jemput rasa ini tuk pergi

Depok, 21 Agustus 2013; 6.05 WIB
Silvia Ratna Juwita

Saturday, August 3, 2013

Kamu Berbeda

Semua harusnya tak terjadi menjadi cerita serumit ini di mana semua perasaan terlalu mengalir sesuai arusnya
Bendungannya tak pernah disiapkan karena tak meramalkan akan terjadi sampai pada badai ini
Pada waktu yang seharusnya memang tak perlu datang
Ketika rasa tak seharusnya mudah terbentuk menjadi macam-macam bentuk
Aku yang telah mencoba berdiri pada karang tertinggi dan bersikap angkuh pada kenyataan
Mendapati runyam leburnya perasaan yang tak pernah terduga
Seseorang yang hadir dalam persimpangan rasa menjadi istimewa ketika waktu menciptakan kebersamaan
Padahal datang dengan kecompang-campingan gelak tawa yang jelas semua sekedar canda
Membuat semuanya berbeda, lajurkan prinsip hidup yang tak biasa
Karang tempat berpijak yang rapuh membuatku lemah tak seperti biasanya
Kamu memang berbeda
Bukan cinta biasanya, berhasil menciptakan khilaf yang telah merobek janji
Untuk menyimpan perasaan selamanya sendiri


Depok, 3 Agustus 2013; 16. 22 WIB
Silvia Ratna Juwita

Friday, August 2, 2013

Cinta

Banyak cara ketika cinta menjamu tamunya duduk dalam pusaran hati meski tak ada tempat duduk atau pun sekedar untuk bersandar
Dia meraihnya dengan cerita, mengelabui lelah dengan mimpi dan harapan yang terbuat sendiri
Membuat tamunya asyik melupakan luka dengan nantinya membuat luka baru sampai bertemu pada peraduan pengobatan luka dan pewujud segala mimpi serta harapan
Terbuai dalam tawa yang mungkin berakhir tangisan pilu merongrong dekapan yang belum ditemui
Tersanggah singgahan kebahagiaan yang masih bukan hak milik
Menderapkan langkah sampai entah kapan berhenti tertulis untaian kata kepedihan karena kekeliruan, ketidakberartian atau banyaknya alami perpisahan dari sekian pertemuan
Hingga padanya kepastian

Depok, 2 Agustus 2013; 17.37 WIB
Silvia Ratna Juwita

Tuesday, May 14, 2013

Rama Abi Putro

Abi, panggilan kecil untuk anak laki-laki berumur 9 tahun yang tinggal di kawasan Tanah Kusir ini.

Siapa Abi? |Abi murid privat baru yang sekarang masih duduk di elas 3 SD|

Baru kali ini posting soal murid, entah kenapa menurut gue Abi istimewa, agak membuat hati gue terenyuh. Bukan karena pintarnya, bukan karena juaranya, bukan juga karena senyum canda ramahnya. Tapi karena kebersamaan gue sama Abi.

Pertama kali sampai rumahnya Abi nyambut gue di depan pintu, di situ juga lagi ada supirnya yang lagi cuci mobil. Ya wajah agak oriental, kecil, lincah tapi masih pemalu mengambil tangan kanan gue untuk salim :')

Akhirnya pelajaran dimulai, gue yang mengajar Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris dan IPS untuk Abi memulai pelajaran pertama Bahasa Indonesia.

Melihat tulisan khas anak seumurannya yang masih besar-besar dan kaku gue ngelihatnya senyum. Maklum, gue biasanya cuma terima murid SMP dan SMA jadi ke-flashback kalau dulu tulisan gue juga kaya gitu. Sambil menikmati kue nastar, semprong dan sirup markisa gue sama Abi larut belajar. Dan namanya anak kecil mereka suka bercerita dengan polos.

Setelah gue lihat dia agak 'jenuh' dengan Bindo akhirnya belajarlah English tentang clock, giving direction and food. Hal yang biasa ketika gue menemukan murid gue lebih tertarik belajar bahasa orang lain ketimbang bahasanya sendiri.

Sepanjang waktu gue sama Abi ngomong English, hebat ya anak zaman sekarang masih sekecil itu sudah agak fasih ngomong Englishnya. Ketika belajar gue memandangi ke seluruh isi kamarnya yang didominasi warna biru dan putih; banyaknya koleksi mobil-mobilan. Hal yang cukup bikin gue tertarik banyaknya medali serta piala kejuaraan taekwondo, sepakbola, lari serta terlihat juga prakaryanya sebuah lukisan timbul yang terbuat dari tissu bergambar ondel-ondel. Abi banyak cerita bagaimana dia memperoleh penghargaan tersebut.

Adzan maghrib pun tiba, akhirnya Abi ngajak gue shalat "Ka, solat yuk.." gue sama Abi ambil wudhu di lantai satu, sambil menuju kamar mandi gue minta Abi menerapkan pelajaran giving direction-nya. Setelah wudhu, gue shalat jamaah sama Abi, dengan polosnya dia bilang "Ka aku ga hapal qomat, ajarin ya..", setelah bimbing qomat gue sama Abi solat maghrib, selesai solat dan berdoa Abi salim lagi sama gue, oh God I've a new brother :')

Selesai shalat, pembantu Abi mengantarkan makan malam, waa gue sama Abi sama-sama suka perkedel. Abi bilang "Ka kita lomba banyak-banyakan makan ya", haduh nolak ga mungkin tapi ga nolak gue lagi diet akhirnya gue pura-pura mengalah :p hihihi

Akhirnya pas gue mau pulang dan pamit sama nyokapnya Abi, ibunya bilang "Abi itu susah makan Ka sebenernya, kalau dia begitu berarti dia nyaman sama Kaka,".. Wah Abi, aku juga ngerasa nyaman kok, entah kenapa ngerasa punya adik. Semangat belajarnya ya Abi, kita masih ketemu terus kok ^^

Silvia Ratna Juwita
Depok, 14 Mei 2013; 20.51 WIB

Sunday, May 12, 2013

Hello 22 yo :)

 waaa, Thanks Allah gimme a chance to feel this moment.. ^^

surprised dari Ami Balqis, Ka Utha sama Mambo ^^


segala macam bentuk ucapan ulangtahun ^^


Red Velvet dari keluarga ^^


12 Mei 2013, ya 2013 - 1991 = 22, ya 22 tahun sekarang umur gue itu. Bersyukur karena di tahun ini banyak banget pencapaiannya yang ga pernah terbayangkan sebelumnya, ga bisa disebutin satu-satu tapi ada hal-hal terbesar yang mungkin mau gue share. Segala bentuk dari bagian perjalanan gue ^^

~ meraih gelar S1 (15 Agustus 2012)
hmmm, apa istimewanya dapet gelar di tanggal segitu? BANYAK!
gue dapet gelar itu di umur gue yang ke 21 tahun 3 bulan 3 hari dan masa kuliah untuk tingkat S1 yang berakhir di penghujung semester 8 berhasil gue tempuh dalam waktu 3 tahun 7 bulan, merupakan kebanggaan tersendiri karena dari satu angkatan gue merupakan 1 dari 2 anak yang tidak sampai mengeluarkan bayaran untuk semester 9 (ga seberapa sih nominalnya tapi tetep aja seneng).
Selesainya perkuliahan itu akhirnya dirayakan dengan wisuda pada 3 November 2012 dengan kebanggaan juga karena IPK gue mampu ngebuat mama duduk di balkon (di dalam auditorium) karena IPK yang tidak sesuai standar keluarga hanya ditempatkan di tenda saja.

~ 31 April 2013 resmi jadi mahasiswa Pascasarjana UNJ
ya, di umur gue yang tinggal selang 12 hari menuju 22 tahun, gue resmi diterima menjadi mahasiswa Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta (UNJ) untuk jurusan Pendidikan Bahasa. Kebanggaan itu semakin bertambah karena gue mampu bayar uang kuliah gue sendiri dengan gaji gue sendiri dengan total nominal Rp13.500.000,-. Mungkin nominal itu tak seberapa bagi orangtua tapi buat gue pribadi, kuliah tanpa ngebuat keluarga ikut 'kontribusi' biaya adalah hal yang memuaskan hati pribadi meskipun sebenernya mereka juga ingin membantu bayar.

~ Perjalanan Hidup (Pertemuan dan Perpisahan)
yaaa benar dalam waktu 1 tahun dari umur 21 tahun menuju 22 tahun selain gue terpisah dengan teman-teman kelas, gue juga banyak bertemu dengan orang-orang baru yang akhirnya menjadi sahabat-sahabat baru, keluarga baru dengan jalan yang tak terkira. Banyak kisah dari orang-orang yang datang dan pergi menghadirkan pembelajaran hidup tersendiri untuk pendewasaan pribadi gue sendiri. Apapun yang telah terjadi gue belajar memahami segala yang terjadi dalam hidup memang sudah skenario hidup yang notabennya harus terus gue hadapi. Dan gue yakin gue bisa dan harus mampu ^^
3 hal itulah yang paling berkesan dalam perjalanan hidup gue 1 tahun ke belakang. Sekarang gue ada di dunia ini untuk tahun yang ke 22, pastinya gue akan selalu belajar menghadapi kehidupan dengan kebaikan-kebaikan yang gue pelajari kemarin dan kebaikan yang baru pastinya serta meninggalkan segala kesalahan juga melupakan kenangan buruk yang telah terjadi.

Besok gue mulai menghadapi hari di mana gue adalah Silvia Ratna Juwita dengan umur 22 tahun tentunya dengan resolusi yang lebih baik lagi.

Dan buat keluarga, sahabat, teman dan murid semuanya terimakasih untuk surprised, ucapan serta doa-doanya. Love you all :*

Silvia Ratna Juwita
Depok, 12 Mei 2013; 21.20 WIB

Friday, May 10, 2013

Cinta dengan Diam; Belajar Ikhlas


Entah apa, cinta memang bukan hal yang harus diprioritaskan utama dalam hidup namun kehadirannya memang di luar kehendak pribadi. Siapa pun yang tercinta bukan karena memilih melainkan ia terpilih oleh hati. Andai saja hati seperti robot, sejak sebelum cerita itu dimulai mungkin sudah menyusun aturan kapasitas rasa yang akan tercurah, namun sayang kenyataan tak dapat dipungkiri bila hati bukanlah hal yang dapat diatur.
Semacam anugerah mungkin. Keindahan yang tak dapat dibujurkan dengan sudut pandang mata. Hati lah penakar segala rasa.
Cinta ini tak buta tapi perhitungan. Namun bukan hitungan harta maupun tahta. Hitungan perkiraan akan kebahagiaan selanjutnya tanpa bermaksud meragukan.
Menyadari kehadiran insan yang mempunyai hati sama; keputus-asaan mungkin dapat disebutnya menjadikan lisan diam tapi tidak mata, hati, dan pikiran.
Dalam diam mata mencari, hati menahan pembukaan luka, dan dalam diam memikirkan hal yang mungkin akan terjadi. Semua hati pasti lebih sensitif bila ada hati lain yang mencintai belahan jiwanya.
Sedapat apa pun banyaknya galian menyembunyikannya, semua akan terungkap pada waktunya. Dan diam semakin menjadi; doa pun hanya terlisan dalam hati. Ketika ini hanya yang menciptakan segala rasa lah yang mampu mendengar serta menjaga peluh yang tersimpan sendiri.
Dan dalam diam akan tetap tersenyum serta selalu dan akan selalu belajar mengikhlaskan hal yang notabennya bukan hal milik.
Cinta mungkin tak abadi dan tak termiliki lagi, tapi kenangan tak pernah dapat diubah; semua berlalu dalam diam, dalam helaan nafas yang sedang mengusahakan pengikhlasan.


Silvia Ratna Juwita
Depok, 10 Mei 2013; 19.51 WIB.

Wednesday, February 13, 2013

Undangan Pernikahan Online? Coba ke datangya.com :)




       Woah... tidak terasa usia sudah memasuki tahap kritis nih. Kritis di mana teman- teman sudah banyak yang memberikan kejutan kabar dengan memberikan undangan. Apa kejutannya kalau hanya sekedar undangan? Kalau sekitar 20 tahun lalu dapat undangan pasti undangannya lucu-lucu; ada gambar balon, badut, binatang, barbie dan memasang foto si pengundang sendiri. Nah, kalau sekarang undangannya sudah beda tema, ada yang berpita, corak batik, berbentuk buku diary, atau yang sweet lah ya, dan foto yang digunakan juga sudah tidak sendiri lagi, pasti berdua, foto prewed lah ya. Itulah perbedaan umum undangan ulangtahun dengan pernikahan dan perasaan ketika menerima undangan itu juga terasa beda meskipun sama-sama senang tapi beda komposisi, ketika kita menerima undangan ulangtahun perasaan yang dirasakan pure senang, seru karena akan bermain bersama teman-teman, nah kalau undangan pernikahan yang diterima pasti ada rasa haru, bahagia yang berbeda. Ya jelas berbeda juga karena pernikahan merupakan acara yang diharapkan menjadi acara sekali seumur hidup untuk menempuh jenjang kehidupan selanjutnya dalam binaan sepasang kekasih.
       Karena itu pernikahan yang pastinya selalu diharapkan oleh seluruh manusia hanya sekali dalam hidupnya diberikan perhatian khusus dari si empunya acara; dari segi pakaian, makanan, tempat berlangsungnya acara, riasan, souvenir, dan hal lainnya yang membuat calon mempelai dan keluarga diliputi kesibukan yang luar biasa. Namun, sebelum memikirkan hal-hal teknis yang akan berlangsung dalam pernikahan, ada hal yang paling penting menjadi kunci berlanjutnya acara, yaitu undangan pernikahan itu sendiri.
       Sama halnya dengan memilih gaun pengantin, memilih kartu undangan butuh waktu yang lama karena calon pemgantin tidak hanya memikirkan seleranya saja tetapi juga memikirkan bagaimana undangan tersebut akan menarik perhatian yang diundang. Bayangkan kalau pesta pernikahan yang sudah disiapkan semegah mungkin tidak diimbangi dengan undangan yang tidak cukup menarik. Itu akan menjadi "catatan cacat" bagi si pengantin juga keluarganya.
       Namun, undangan yang sudah dipersiapkan dan ditujukan kepada orang-orang yang dituju juga cukup terasa percuma kalau undangan tersebut tidak sampai kepada orang yang dituju, mungkin mereka sedang berada di luar kota yang belum bisa dijangkau karena keterbatasan waktu, atau kebetulan kita tidak dapat menemukan alamatnya, hal tersebut juga cukup menguras pikiran si pengantin. Telepon mungkin bisa menjadi salah satu kunci pemecah atau solusi, tapi coba bayangkan sepertinya agak kurang etis kalau mengundang via telepon yang notabennya tidak memberikan "bekas" atau menjadi reminder tersendiri bagi yang diundang.
       Seiring dengan berkembangnya zaman yang kini didampingi dengan teknologi dan informasi canggih akan bisa cukup membantu calon pengantin memberikan sebuah solusi baru dalam bentuk Online. Calon pengantin bisa menyebarkan undangan kepada teman, keluarga, rekan atau siapapun yang diundang dengan media tersebut. Hal itu pasti sangat membantu, karena dapat memastikan sendiri undangan sampai pada orang yang dituju.
       Misalnya seperti menyebar undangan melalui fitur “invite” di facebook yang akan menyebarkan undangan ke semua teman, atau mungkin bisa juga dengan mengirim wall kepada yang diundang.
     “Iya nih kemarin kan agak susah ketemu sama temen-temen yaudah nyebar undangan di facebook saja, nyebarinnya yah nge-tag foto undangannya aja deh ke temen-temen,” ungkap Yati, yang menikah pada tanggal 26 Februari 2012 silam.
       Tapi sama halnya dengan undangan berbentuk cetak, undangan pernikahan online sudah selayaknya juga disampaikan dalam bentuk yang menarik, tidak hanya sekedar tulisan seperti bentuk pesan singkat biasa yang kadang juga membuat penerima undangan merasa tidak cukup “tertarik” untuk datang.
       Undanganpernikahan online sepertinya akan lebih menarik jika dapat memilih sendiri design layaknya membuat undangan cetak, bisa juga dengan menaruh beberapa foto prewed, sketsa denah dengan jelas yang mungkin bisa terhubung dengan Maps Location, bahkan dalam undangan online tersebut bisa diselipkan lagu, bisa saja lagu kenangan kedua calon mempelai.

        Link tersebut merupakan salah satu contoh undangan pernikahan online yang sangat menarik perhatian dari datangya.com, kita bisa melihat beberapa slide foto, denah acara yang jelas dari Maps Location yang tidak hanya sekedar sketsa yang terkadang masih cukup membingungkan, sembari diiringi lagu Nothing Gonna Change My Love For You dari George Benson, dan undangan terasa lebih menarik. Harga yang terbandrol hanya Rp250.000,- di mana itu termasuk harga yang sangat murah dibandingkan dengan undangan cetak yang anggap saja Rp10.000/undangan dan mengundang untuk 1000 undangan.
       Jadi membayangkan butuh berapa banyak kertas yang digunakan untuk membuat 1000 undangan, pasti banyak ya. Kalau online bisa bebas mengundang berapa banyak kawan alias undangan tak terbatas. Lagipula internet untuk masa sekarang ini bukanlah hal yang asing lagi. Jadi jelas sepertinya datangya.com hadir tidak hanya memberikan solusi untuk mengatasi permasalahan undangan bagi calon pengantin saja tetapi juga memberikan solusi besar dalam meminimalisir penggunaan kertas yang kian mengikis pohon-pohon dan tumbuhan yang mengandung serat.
       Tidak hanya itu, undangan cetak yang terbuat dari kertas dengan sebagus-bagusnya, mungkin nantinya akan menjadi bagian benda yang teronggok di tumpukan sampah dan menjadi hal yang tidak bisa dikenang lagi wujudnya.



 
Silvia Ratna Juwita
Depok, 13 Februari 2013

Saturday, January 12, 2013

Soal Cinta ^^

samlekuuuuuuuum... ^^
heyhoy heyhoy heyhoy kawan.....

gue : hmmmmm malam minggu ya?
lo : iya, ngape?
gue : ga papa, nanya aja, jangan sensitif gitu dong, jomblo ya?
lo : -___- zzzz
gue : udah jangan jedotin kepala ke meja gitu dong, baca postingan gue aja kali ini, oke?
lo : modus!!
gue : hahahahah, yuk mariiii...

Sesungguhnya tokoh gue dan lo bukanlah fiktif belaka, yang tidak merasa ya syukur, buat yang merasa mangap yee, eh maap maksudnya ^^

lo : emang posting apaan sih lo?
gue : kepo banget sih lo..!!
lo : haaaaaazzzz...
gue : yasudah dibaca saja ya, baek baek bacanya, jadi begini postingannya...

tiiiiiiiiiiiinnnnggggggg.... waktu berlalu

gue : aduh mau bahas apaan ya? Gue jadi bingung mau bahas apa deh.. hehehe
lo : yang bener apa..
gue : iya iya sabar dulu, bingung nih...

tik tik tik tik tik [lagi ngetik....]

yang jelas malam ini gue lagi seneng banget, banget banget...
| senengnya apa ya? |
gue seneng aja, akhirnya apa yang gue penasaranin selama kurang lebih sepuluh hari belakangan ini kejawab sudah ^^
| apaan emang? |
CINTA

CINTA itu menurut gue adalah hal yang paling banget memang sulit dimengerti, dipahami, dan kalau buat gue sendiri cinta itu cukup sulit untuk dimiliki.
| kasihan dong lo? |
Yah, kita pikir khusus dulu ya, kalau CINTA dari lawan jenis, sampai saat ini masih cukup sulit untuk gue, kalau ada yang suka sama gue sih ada tapi entah kenapa belum ada yang bisa masuk ke hati, fine sih kalau dibilang pemilih. Tapi bukan berarti gue belagu cuma disukain sama orang aja, gue juga punya hati ko, gue juga suka sama beberapa kaum Adam. Tapi ya gitu endingnya ga jelas, mungkin memang belum jodoh ^^ I'm sure Allah just want me in the right way, yup this is the best way from Allah for me ^^

Dan dari beberapa pengalaman gue, gue cukup belajar memahami tentang CINTA, bukan berarti gue ga belajar apa-apa loh. Apapun hasilnya kisah percintaan gue, gue yakin semua itu yang terbaik. Sip lah simak pelajaran yang bisa gue ambil...

satuuu.....
     duaaaaa.....
            tigaaaaaa....

menurut gue........
1) CINTA itu wajar
Wajar apabila cinta itu bisa ngebuat lo bahagia, senang, terlihat gila karena lo suka senyum-senyum sendiri, semangat atau apapun lah yang lo rasain di hidup lo jadi semakin menyenangkan, happy.. you feel like you're in heaven ^^
Nah lo juga harus terima kalau cinta ngebuat lo ngerasa sakit, sedih, kelam, patah hati, ataupun galau lah namanya, istilah katanya balance, jadi itu pun wajar. Wajar lah. So jangan berlebihan kalau tiba-tiba lo jadi sedih, satu cara sih emang yang terbaik buat lo lakuin. Pertama, lo curhat sama Allah, nah kalau lo ngerasa curhatan lo itu butuh "tanggapan" curhat lah sama temen terbaik lo, temen terdekat lo, karena biasanya kalau soal cinta kita cukup sulit cerita ke keluarga, ya kan? Setidaknya lo ga sendirian mikirin, soalnya kalau lo sendirian mikirnya kasihan malahan jatohnya lo jadi stress sendirian, emosi itu perlu diluapkan loh.. so berbagilah sama temen lo ^^
Dan itu semua menurut gue wajar. Asal inget, jangan berlebihan sampai lo cerita ke semua temen lo, yang ga deket juga cerita. Malah lo terlihat naas banget hidupnya, jadiiiii wajar lah...

"Cintai seseorang dengan wajar bila pun nanti sakit, adalah sakit yang wajar yang akan terasa tapi tidak bila kebahagian yang didapat"

2) CINTA itu hikmah
maksudnya?
Ya cinta itu punya hikmahnya tersendiri buat gue, apapun itu. Bukannya sok kuat atau apa, di balik semua percintaan lo bila itu berakhir menyedihkan, dia selalu hadir dengan hikmahnya tersendiri. Apapun akhirnya yang selalu gue inget adalah dia pernah kasih kebahagiaan buat gue. Masalah lo mau berkomunikasi lagi atau ga itu sih pilihan, tapi inget perpisahan bukan berarti lo berhak ngejudge dia sebagai orang yang jahat, biar gimana pun juga semua itu takdir.

- dari dia yang selingkuh kita bisa belajar untuk memperbaiki diri, toh pada kenyataannya kalau seseorang itu tertarik pada orang lain, pikir positif aja kalau diri kita itu ada yang kurang, dari situ kita belajar memperbaiki diri kan? ^^

- dari dia yang tidak bisa berkomitmen, kita bisa belajar tegas, entah apapun alasannya kalau dia tidak bisa berkomitmen, kalau kita memutuskan memilih dia kita harusnya sabar toh memang notabennya itu pun pilihan kita, tapi ingat waktu itu berjalan, pahami kalau kedekatan dengan dia itu bisa menutup jodoh kita yang lain karena kita juga ga tahu kalau dia jodoh kita atau bukan. Jadi, kalau dia tidak bisabertindak tegas kita harus yang lebih tegas ^^

Dan banyak hal lain lagi yang bisa dipelajari. Apapun itu, cinta itu harusnya memaafkan, memaafkan kesalahan orang lain juga memaafkan kesalahan sendiri. Cinta juga harus berani mengakui kesalahan sendiri, kalau memang kita punya salah sama orang di sekitar kita, jangan pernah gengsi buat ngakuin salah, ingat orang yang mencintaimu akan selalu punya kata maaf. Lagipula berteman itu malah menyenangkan kok ^^

Satu hal yang paling penting yang gue pelajari dari CINTA adalah IKHLAS.

Ya, ikhlas adalah hal yang paling bisa buat kita ngerasa PLONG ngehadapin semua yang terjadi ^^


Depok, 12 Januari 2013; 20.48 WIB
Silvia Ratna Juwita

Thursday, January 10, 2013

[kita] cuma Manusia Biasa :')




entah apa yang harus
kukatakan...
diam telah menjamur dengan
tanya...

biar saja kusapa dirimu dalam doa...
di balik sujud
yang menggelinang
air mata...

-Silvia Ratna Juwita-

lupa kapan bikin itu foto, kalau nggak salah sih sekitar tanggal 29 September 2011, ngeeek lama juga ya.. sebenernya sih nggak ada unsur kesengajaan bikin foto dengan goretan tulisan yang asli ide kreatif sendiri. Di situ sih tersirat kalau aku udah ngerasa pasrah aja sama hal-hal yang terjadi, udah nggak ngerti lagi gimana caranya ngadepin masalah, yang endingnya cuma bisa diselesaikan dengan DOA

Oke guys, mungkin memang benar kali ya, setiap permasalahan kita pasti selalu ada jalan keluarnya entah itu kapan, mungkin harus sabar-sesabar-sabarnya, yakin saja kalau Allah akan bantu nunjukin jalan, istilahnya Dia sayang sama kita, jadi dengan adanya masalah kita dibuat ingat terus sama Dia melalu doa yang selalu meminta kepadaNya, karena nggak ada tempat lagi untuk kita meminta selain Dia. Ya kan? ^^

Tapi ya, kita sebagai manusia [opini pribadi] mau manusia apapun, pemimpin kek, pegawai, pengemis, pengangguran, atau apapun semua tetap manusia *yaiyalah masa alien!! Ouups, alien ada beneran?? || tau || oke balik..*

Manusia manapun PASTI pernah ngelakuin kesalahan, entah yang disengaja ataupun tidak, yang terkadang kesalahan itu bisa jadi menyakiti orang di sekitarnya atau malah jadi bahan cemooh juga. Memang sih kita [red: manusia] hatinya tidak bisa selalu menjadi manusia yang super duper baik, rasa jengkel, kesal, benci, PASTI pernah ada kelintas dah *walaupun sebentar | hayo ngaku, iya kan pernah? | selow aja aku juga sama ^^* wajar kok, toh kita memang manusia biasa, tapi kan nggak salah kalau kita mencoba menjadi manusia yang ga biasa *BERUBAAAH jadi alien..?!! || bukan gitu maksudnya -___-*

Ya maksudnya gini, kalau ada orang lain entah teman, saudara, atau siapapun melakukan kesalahan, yah kita ga usah lah ngejudge dia, jauhin dia, menghina, atau membenci, hal itu ga akan ngebuat kita jadi diri yang akan terlihat lebih baik kok. Justru kita sama aja, bahkan bisa jadi lebih buruk, malahan kan di mata Allah semua manusia itu sama yang membedakan hanya amal dan ibadahnya saja, iya kan?

Berat sih emang, rasanya juga susah untuk dilakuin, mungkin juga pembaca ada yang langsung bilang *ngomong doang mah enak!! ya kan? || astaghfirullah su'udzhon kan jadinya, maaf ya ^^* tapi ga ada salahnya kan dicoba, ikhlas ga ikhlas sih, makanya kita belajar ilmu ikhlas dari setiap apa yang terjadi sama kita.

Ya, aku mau coba nge-tips atau punya angan-angan kali ya, gini nih:

- kalau misalnya orang lain punya salah sama kita dengan sengaja, sesalah-salahnya apapun dia coba deh bilang ke orang yang bersangkutan tentang kesalahannya, mungkin mereka punya alasan yang cukup berarti yang bisa ngebuat kita netralisir kemarahan kita, ya kan? Intinya saling bicara dan terbuka, biar semua permasalahan bisa dirembukin bersama, kan kita makhluk sosial. Intinya setiap orang itu berhak punya kesempatan untuk memperbaiki dirinya lagi, masa iya kita masuk surga maunya sendirian aja? Kan ga seru juga ^^

Sampaikan saja kesalahan biar si pelaku bisa belajar dan menyadari kesalahannya. Apalagi kalau dia sebenarnya ga sengaja ngelakuin kesalahan itu, tapi kita udah ngasih stigma kalau dia itu jahat, hayoo jadinya yang jahat siapa? Iya kalau kesalahannya itu sengaja, nah ini ga sengaja tapi kita udah nyuekin berlaku tidak adil yang justru malah nyakitin hatinya, ga taunya dia malah berdoa sama Allah buat tahu kesalahan dia sampai nangis padahal dia ga tau apa, gimana tuh? Siapa tuh yang jahat jadinya? ^^

Sebaik-baiknya kita sebagai manusia menurut aku kita pasti punya salah, banyak salah malah. Ga susah kan sebenarnya maafin orang lain, tinggal ambil cermin diri dan ngaca, apakah kita manusia yang selalu benar?

- nah kita sebagai pribadi sendiri ga ada salahnya kok minta maaf, terlepas dari mereka mau memaafkan atau ga, kita salah atau ga, ga papa kok hal itu dilakuin, toh meminta maaf ga akan pernah nurunin derajat kita di mata Allah *entah sih kalau di mata sesama manusia, yang penting kan penilaian Maha Pencipta kan bukan yang diciptakan?*

Minta maaf pun harus tulus, kalau mereka ga mau maafin ya sudah, itu kembali lagi biar saja Allah yang Maha Pemaaf yang menilai.
Satu hal yang sulit menurut aku, adalah kita belajar untuk memaafkan kesalahan diri sendiri. Kadang kita ngerasa gengsi ga mau ngakuin kesalah diri sendiri dan itulah yang ngebuat kita selalu jadi pengecut sendiri, sembunyi di balik kesalahan.

Minta maaf saja, minta maaf yang tulus. Insya Allah selalu ada jalan menyelesaikan semua masalah. Amin allahumma amin

Buat semua teman-teman kalau aku [Silvia Ratna Juwita] punya salah maafin ya, maklum cuma manusia biasa

Depok, 10 Januari 2013; 21.20 WIB
Silvia Ratna Juwita 

Monday, January 7, 2013

Maafin Aku Ya 5cm :'(

hai guys, hmmm.. sudah lama juga ga nyorat-nyoret *eh ngetik2 deng :D

http://us.images.detik.com/content/2012/12/17/229/5dlm.jpeg


kali ini aku pengen bahas soal film yang lagi (mungkin masih) booming sih, apalagi kalau bukan 5cm yang diangkat dari novel karya Donny Dhirgantoro. Sebelum ngereview cerita dulu ah, jadi gini aku kenalan sama ini novel yah tahun 2009, novelnya itu kebetulan hadiah ulangtahun dari temannya si kakak. Awalnya sih (jujur ga pakai bohong) berhubung aku bukan anak yang termasuk berminat dengan membaca, baca apaan aja males banget dah, apalagi ngelihat novelnya tebel banget, makin-makin males aja deh. Tapi suatu waktu, lagi ngerasa ga mood banget, bingung mau ngapain akhirnya baca juga itu novel, bayangin novel segitu tebelnya abis dalam waktu 3 hari *ketahuan banget ga suka baca* hahaha.. yah yang penting dibaca ya..

you know guys, waktu baca novelnya aku suka banget sama ceritanya, berdasarkan pendapat pribadi yang ga dibuat-buat, cerita novelnya sangat menarik, menyentuh lah, penulis berhasil memvisualisasikan cerita sehingga pembaca *dalam hal ini adalah aku* bisa punya imajinasi dan gambaran saat lagi bacanya. Alur cerita meskipun maju mundur tetap ga ngurangin nilai plus untuk memahami ceritanya. Bahkan, aku  sendiri sampai nangis berkali-kali baca novelnya *emang dasarnya cengeng* tapi emang penulisnya top lah nyeritainnya. Mau tau ceritanya apa? Baca sendiri lah, masa mau diceritain juga, pegel lah :p hahaha

Akhirnya, nge-follow deh akun twitter sang penulis, saking sukanya sama itu novel akhirnya novel itu sampai dijadiin objek penelitian skripsi coba? Emang suka sih, baca novelnya aja sampai 5 kali, pas lagi nyekripsi malah berkali-kali ngubek-ngubek itu novel, padahal tadinya ga minat banget bacanya, asli.

Nah pas kapan gitu tepatnya (lupa).. berhembuslah kabar kalau 5cm akan tayang di bioskop di tanggal cantiknya tahun 2012, tepatnya 12-12-12, wow banget lah apalagi pemainnya nama-nama yang cukup terkenal di jagat perfilman, ada Fedi Nuril, Herjunot Ali, Pevita Pearce terus ada juga Deny Sumargo sama Raline Sah *maap ya kalau salah tulis namanya, lagi males kroscek*

Nah, karena ngebaca novelnya yang wow banget, bener-bener suka, jadi bener-bener excited banget buat nonton ini film lah, tadinya niat banget nonton tanggal premiernya tapi banyak hal yang membuat ga bisa, baru lah bisa nonton tanggal 31 Desember.

Oke, lanjut...

Dikarenakan baca novelnya yang ceritanya sangat menarik dan timeline twitter yang ramai banget nonton 5cm bagus, bagus banget, bahkan temen *sebut saja namanya Vanya (perasaan itu nama aslinya, FOKUS!!) sampai nonton 4 kali, terus temen juga bilang bagus, bahkan dia nonton yang kedua kalinya berarti kan itu filmnya bagus banget ya? :)

Akhirnya pas nonton, di XXI Pondok Indah Mall  *yang mau dibahas apa sih?* hahahaha FOKUS :)

Nah, film kan dimulai tuh, yah ga lebih dari beberapa scene awal langsung timbul curiga, film ini bakalannya *maap ya maap* GA SERU :'( berat memang nyebutnya, tapi ternyata benar, aktingnya kaku, dialog pemain asli kaku banget, kaya baca :(( *sedih loh ini nulisnya* pemainnya sih ganteng, cantik, cakep, lucu tapi jujur sangat tidak menarik, bahkan Fedi Nuril yang berperan di Ayat-ayat Cinta bagus banget di 5cm sama sekali aneh :(( mereka terlihat seperti robot yang sudah disetting harus berbicara ini-itu, semuanya terlihat abnormal :( pemotongan cerita juga terjadi di sana sini, ceritanya jadi ga teratur, aneh untuk dinikmati, ga jelas. Penonton hanya menang disajikan pemandangan yang bagus. Tapi semua kaku :(

Jadinya pas nonton bener-bener kerasa kecewa aja padahal cerita di novelnya bagus loh :'(

Yah, mungkin aku harus belajar untuk tidak menaruh ekspektasi tinggi terhadap sesuatu ya seperti film, ga boleh ngarepin hal-hal yang ga ga deh, jadinya kecewa. Tapi terimakasih yah 5cm, bisa ngebuat aku mengenal temen-temen aku dengan lebih baik ^^ it was a sweet memory :')