Depok, 25 Mei 2014; 17.00 WIB
Silvia Ratna Juwita
about stories, vents, reports, fad, impingement of my hearts my life, whatever ~(^o^")~
Diam aku harap bisa
Dengan diam aku ingin tahu
Dengan diam aku pinta sadar
Seberapa besar aku menahan ego untuk tetap melupakanmu
Di kala cinta terlalu cepat menggerogoti hati
Yang memancarkan ingatan tentang senyummu
Dalam diam kuharap bersama doa
Kau akan hadir bersama sebait kabar
Tapi doa tidak dijamah Tuhan
Aku bermimpi bersama tangis
Memandang layar yang tak kunjung memunculkan dua kata namamu
Ya...
Aku paham
Ketidakberartiannya diri ini
Ketidak diingatnya nama ini di sejenak pikiranmu
Meski kau selalu tahu seberapa besar rasa yang tercipta karena candamu
Aku menangis karena ulahku
Membiarkan kebodohan menyelimuti nafsu hati untuk memilih tetap mencintaimu dengan segala resiko
Dan kini aku bermandikan duka resiko yang kutanam sendiri
Depok, 23 Agustus 2013; 16.59 WIB
Silvia Ratna Juwita
Aku mengagumi sosokmu
Bukan karena manisnya senyummu
Bukan karena renyahnya suaramu
Aku menikmati setiap detak degub jantung dari setiap kata dari bibirmu
Dalam bingkai cerita, pujian atau sekedar canda
Lenggok tubuh dan tarian mata terpampang indah
Meski kutahu itu bukan milikku
Sekedar canda yang biasa kau bagikan pada setiap yang di hadapanmu
Ketika hati tak bisa memilih
Pergi pun belum mampu terlaksana
Karena langkah tak ingin jauh pergi
Dan biarkan hati terbodohi harap
Perasaan yang terkuak
Tak terbendung hingga kata mengalir
Dari kejujuran
Dan perjuangan hanya mampu dalam doa
Menunggu waktu yang jemput rasa ini tuk pergi
Depok, 21 Agustus 2013; 6.05 WIB
Silvia Ratna Juwita
Semua harusnya tak terjadi menjadi cerita serumit ini di mana semua perasaan terlalu mengalir sesuai arusnya
Bendungannya tak pernah disiapkan karena tak meramalkan akan terjadi sampai pada badai ini
Pada waktu yang seharusnya memang tak perlu datang
Ketika rasa tak seharusnya mudah terbentuk menjadi macam-macam bentuk
Aku yang telah mencoba berdiri pada karang tertinggi dan bersikap angkuh pada kenyataan
Mendapati runyam leburnya perasaan yang tak pernah terduga
Seseorang yang hadir dalam persimpangan rasa menjadi istimewa ketika waktu menciptakan kebersamaan
Padahal datang dengan kecompang-campingan gelak tawa yang jelas semua sekedar canda
Membuat semuanya berbeda, lajurkan prinsip hidup yang tak biasa
Karang tempat berpijak yang rapuh membuatku lemah tak seperti biasanya
Kamu memang berbeda
Bukan cinta biasanya, berhasil menciptakan khilaf yang telah merobek janji
Untuk menyimpan perasaan selamanya sendiri
Depok, 3 Agustus 2013; 16. 22 WIB
Silvia Ratna Juwita
Banyak cara ketika cinta menjamu tamunya duduk dalam pusaran hati meski tak ada tempat duduk atau pun sekedar untuk bersandar
Dia meraihnya dengan cerita, mengelabui lelah dengan mimpi dan harapan yang terbuat sendiri
Membuat tamunya asyik melupakan luka dengan nantinya membuat luka baru sampai bertemu pada peraduan pengobatan luka dan pewujud segala mimpi serta harapan
Terbuai dalam tawa yang mungkin berakhir tangisan pilu merongrong dekapan yang belum ditemui
Tersanggah singgahan kebahagiaan yang masih bukan hak milik
Menderapkan langkah sampai entah kapan berhenti tertulis untaian kata kepedihan karena kekeliruan, ketidakberartian atau banyaknya alami perpisahan dari sekian pertemuan
Hingga padanya kepastian
Depok, 2 Agustus 2013; 17.37 WIB
Silvia Ratna Juwita
Abi, panggilan kecil untuk anak laki-laki berumur 9 tahun yang tinggal di kawasan Tanah Kusir ini.
Siapa Abi? |Abi murid privat baru yang sekarang masih duduk di elas 3 SD|
Baru kali ini posting soal murid, entah kenapa menurut gue Abi istimewa, agak membuat hati gue terenyuh. Bukan karena pintarnya, bukan karena juaranya, bukan juga karena senyum canda ramahnya. Tapi karena kebersamaan gue sama Abi.
Pertama kali sampai rumahnya Abi nyambut gue di depan pintu, di situ juga lagi ada supirnya yang lagi cuci mobil. Ya wajah agak oriental, kecil, lincah tapi masih pemalu mengambil tangan kanan gue untuk salim :')
Akhirnya pelajaran dimulai, gue yang mengajar Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris dan IPS untuk Abi memulai pelajaran pertama Bahasa Indonesia.
Melihat tulisan khas anak seumurannya yang masih besar-besar dan kaku gue ngelihatnya senyum. Maklum, gue biasanya cuma terima murid SMP dan SMA jadi ke-flashback kalau dulu tulisan gue juga kaya gitu. Sambil menikmati kue nastar, semprong dan sirup markisa gue sama Abi larut belajar. Dan namanya anak kecil mereka suka bercerita dengan polos.
Setelah gue lihat dia agak 'jenuh' dengan Bindo akhirnya belajarlah English tentang clock, giving direction and food. Hal yang biasa ketika gue menemukan murid gue lebih tertarik belajar bahasa orang lain ketimbang bahasanya sendiri.
Sepanjang waktu gue sama Abi ngomong English, hebat ya anak zaman sekarang masih sekecil itu sudah agak fasih ngomong Englishnya. Ketika belajar gue memandangi ke seluruh isi kamarnya yang didominasi warna biru dan putih; banyaknya koleksi mobil-mobilan. Hal yang cukup bikin gue tertarik banyaknya medali serta piala kejuaraan taekwondo, sepakbola, lari serta terlihat juga prakaryanya sebuah lukisan timbul yang terbuat dari tissu bergambar ondel-ondel. Abi banyak cerita bagaimana dia memperoleh penghargaan tersebut.
Adzan maghrib pun tiba, akhirnya Abi ngajak gue shalat "Ka, solat yuk.." gue sama Abi ambil wudhu di lantai satu, sambil menuju kamar mandi gue minta Abi menerapkan pelajaran giving direction-nya. Setelah wudhu, gue shalat jamaah sama Abi, dengan polosnya dia bilang "Ka aku ga hapal qomat, ajarin ya..", setelah bimbing qomat gue sama Abi solat maghrib, selesai solat dan berdoa Abi salim lagi sama gue, oh God I've a new brother :')
Selesai shalat, pembantu Abi mengantarkan makan malam, waa gue sama Abi sama-sama suka perkedel. Abi bilang "Ka kita lomba banyak-banyakan makan ya", haduh nolak ga mungkin tapi ga nolak gue lagi diet akhirnya gue pura-pura mengalah :p hihihi
Akhirnya pas gue mau pulang dan pamit sama nyokapnya Abi, ibunya bilang "Abi itu susah makan Ka sebenernya, kalau dia begitu berarti dia nyaman sama Kaka,".. Wah Abi, aku juga ngerasa nyaman kok, entah kenapa ngerasa punya adik. Semangat belajarnya ya Abi, kita masih ketemu terus kok ^^
Silvia Ratna Juwita
Depok, 14 Mei 2013; 20.51 WIB
![]() |
| surprised dari Ami Balqis, Ka Utha sama Mambo ^^ |
![]() |
| segala macam bentuk ucapan ulangtahun ^^ |
![]() |
| Red Velvet dari keluarga ^^ |
![]() |
| http://us.images.detik.com/content/2012/12/17/229/5dlm.jpeg |
Assalammualaikum kawan... apa kabarnya ini alumni? Atau pun kawan-kawan yang masih di kampus atau yang "betah di kampus"?
Huuuuaaaah, sudah satu bulan lebih sebelas hari menjadi alumni UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, setelah wisuda 3 November 2012 yang lalu. Hmmm... see, biasanya setelah lulus pertanyaan umum yang tetap menjadi polemik adalah "terus kerja di mana?" iya kan? Pasti pertanyaan "Kapan nih nikahnya?" cuma hits ketika mau wisuda saja deh ^^, *kecuali kalau memang sudah ada calonnya*
Hahahaha, di postingan kali ini aku cuma pengen berbagi cerita nih jadi "pekerja". Alhamdulillah, bersyukur saat ini aku udah menikmati dunia pekerjaan yang selama ini aku suka tapi tak pernah terbayang akan cepat terwujud seperti ini. Wartawan, ya meskipun basicnya aku bukan kuliah dari Ilmu Jurnalistik tetapi dari Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FITK tentunya ^^
Ya memang sih, kalau FITK notabennya pasti langsung terarah ke pertanyaan "kenapa ga jadi guru?" bukannya pengen mendurhakai fakultas, tetapi aku suka menulis, ilmu kebahasaan aku juga masih bisa berguna di dunia baru sekarang ^^
Emang sih awalnya beraaaaaat banget ngejalaninnya, gimana ga berat coba, kaget banget lah intinya. Kaget sama dunia pekerjaan, dunia jurnalistik, dunia baru, ini semuanya baru. Menjadi wartawan tidak semudah yang dibayangkan, berat, mengeluh itu sudah jadi makanan sehari-hari di minggu pertama pekerjaan ini. Tapi tapi tapi setelah mengenal teman-teman baru sesama wartawan, baru kerasa bagaimana asiknya *padahal sebelumnya niat resign*
Tapi niat itu pupus, saat pimpinan redaksi menyampaikan langsung, berita yang aku buat "bagus" *cieeee*alhamdulillah* Pernah pimred bertanya: "apa benar Silvi tidak punya basic jurnalistik?" aku cuma jawab "bener Pak, cuma saya memang suka bidangnya, saya suka menulis". Sekarang aku spesialis pemberitaan DKI I dan DKI II alias memberitakan seputar Jakarta dengan narasumber utama Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta tentunya. Dan semakin menyukai pekerjaan ini, karena perusahaan kasih aku kompensasi waktu untuk jam kuliah S2 ^^
Ya, intinya memang sih dunia kuliah itu adalah dunia yang paling menyenangkan, punya teman-teman kongkow bareng, nangkring di kantin bareng, chit chat, gosip, ngeband, dan lainnya komplit lah bisa dilakuin di masa-masa kuliah. Tapi masa itu juga jangan sampai melupakan diri kita, kalau kita akan memasuki fase kehidupan baru, dunia pekerjaan.
Apa pun jurusan yang kita geluti, bekerjalah di dunia pekerjaan yang kita sukai, karena seberat apa pun kerjaannya kalau kita menyukainya pasti ada saja jalannya untuk tetap stay di kerjaan itu.
Tapiiiii, biar bagaimana pun juga, pekerjaan yang enak adalah kita yang menjadi bosnya, makanya berusahalah menjadi pembuka lapangan kerja dengan modal menjadi pekerja dulu ^^
Selamat berjuang buat kawan-kawan yang masih dan lagi berjuang menggapai gelar, Sarjana
salaaaam![]()